6 Desember 2017
Pada Suatu Hari Nanti
Pada Suatu Hari Nanti
Sapardi Djoko Damono
Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan ku relakan sendiri
Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap ku siasati
Pada suatu hari nanti
Impianku tak di kenal lagi
Namun disela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya ku cari.
Hanya Manusia
Terima kasih, mungkin aku yang terlalu mudah untuk berharap. Kita masih belum tau akan di bawa ke mana langkah ini. Namun, ternyata hatiku memang terlalu mudah untuk berharap. Satu-satunya yang aku harapkan adalah keluar dari setiap bayangan masa lalu, keluar dari setiap rasa sakit karenanya. Tapi hati tiada yang tau, meski sulit sekali untuk memulai itu, perlahan ada setitik harapan dalam diri, pada langkah yang belum pasti tujuannya.
Ini sebab hadirnya dirimu, yang perlahan mampu membuatku untuk tidak mengingat masa lalu, tidak memikirkan setiap rasa sakit itu, hingga aku benar-benar lupa. Kamu telah berhasil, sebenarnya. Namun, terlalu banyak takut dalam diri yang mudah berharap ini. Jika itu terjadi, aku tidak akan membiarkan diriku terjerembab pada kesalahan yang sama, lagi dan lagi. Tak ingin memulai untuk kecewa lagi, pada orang yang berbeda. Aku tidak pernah mengharapkan adanya kekecewaan lagi. Mungkin benar, jarak adalah sebaik-baik hal yang harus ada di antara kita. Sebab kita masih belum tau mau di bawa ke mana langkah ini. Aku pun belum memutuskan untuk berjalan bersamamu. Aku hanya takut pada hati yang mudah berharap, takut pada kekecewaan.
Aku tidak pernah lupa, diri ini hanya manusia biasa. Bukan jaringan komputer, yang dapat bekerja secara on-off setiap kali ingin. Aku tidak bisa mengendalikan hati untuk berharap, aku tidak bisa mengendalikan setiap rasa kecewa yang akan datang.
Sedikit 'pencegahan' adalah hal yang harus selalu ada pada diri. Aku percaya bahwa Allah Maha Membolak-balikan hati. Aku percaya, tiada yang patut menjadi tempat berharap selain Allah. Namun, aku tidak pernah lupa, bahwa diri ini hanya manusia biasa.
Palembang pagi yang basah, 6 Desember 2017.
4 Desember 2017
Suara Guru
Ini foto saat beliau membacakan Suara Guru pada acara pelepasan siswa SMAN 21 Palembang, pada tahun 2016.
Ini foto beliau bersama istri, romantis yaaa?
Mendengarkan pertama kali puisi ini di bacakan oleh Ayahanda kami, oleh guru kami pada acara pelepasan siswa SMA N 21 Palembang pada tahun 2016 sungguh menggugah hati saya. Bagaimana tidak, beliau adalah benar-benar figur yang menjadi panutan kami, bagaimana menjadi seorang guru yang seharusnya. Mengenal beliau pada tahun 2009, bangga pernah di didik beliau, bangga menjadi murid beliau. Meski pertemuan itu hanya tiga tahun saja, namun apa yang beliau ajarkan tertanam dan teringat dalam hati, membumbung tinggi hingga sanubari. Beliau, meski pada masa pensiunnya tetap menjadi seseorang yang menginspirasi saya, menginspirasi setiap anak didiknya, menginspirasi kami. Beliau mengajarkan kami ilmu dunia, mengingatkan kami tentang akhirat, yang pasti menjadi tauladan bagi anak didiknya, bagi guru-guru lain dan calon-calon guru tentang bagaimana berlaku dengan hati, ikhlas tanpa pamrih tanpa mengurangi profesionalitas diri. Semoga apa yang Bapak ajarkan menjadi amal jariyah bagi Bapak. Aamiin, Allahuma aamiin. Terima kasih, atas semua jasamu, Ayahanda kami, Hermanto, S.Pd.
Penasaran sama puisi beliau? Ini nih sudah saya pinta dari beliau langsung melalui aplikasi Facebook, cekidot...
SUARA GURU
Karya:
Kepada pengabdi negeri
Mataram, 10111986
Suara guru adalah benih yang ditabur
kemudian menghambur
menghablur padat abstraksi amanat
mengkristal pecah serpih-serpih upaya:
Menganakkan bayi, bukan membayikan anak
Mendewasakan anak, bukan menganakkan dewasa
Mengembangkan undur, bukan mengundurkan kembang
Mematangkan mentah, bukan mementahkan matang
Menjernihkan keruh, bukan mengeruhkan jernih
Suara guru jangan menggema
membalik arah menikam jiwa yang menjala
Suara guru hendaknya kedap
mengendap dalam menyubur jiwa yang menjala
menumbuh kembang ujud upaya
cipta
rasa
karsa
terpadu dalam trimatra kehidupan.
Beliau juga berpesan dalam postingannya itu:
Semoga suara guru ini tertangkap oleh anak-anak didik bapak yang hendak meniti titian serupa sebagai generasi pelanjut yang amanah.
2 Desember 2017
Terima Kasih, Diriku di Bangku 3 SD
Terima Kasih, Diriku di Bangku 3 SD
Tidak peduli apa dan bagaimana. Jika
aku telah berniat memutuskan suatu hal, mau tidak mau, sulit tidak sulit, suka
tidak suka maka itu harus terjadi. Tidak peduli apapun, jika restu kedua orang
tua sudah di tangan, maka Allah akan meridhoi setiap langkahku, memudahkan
jalanku. Itu yang aku percaya dan selalu aku pegang teguh dalam diri. Ini
adalah salah satu ambisi dalam hidupku. Tidak seperti orang kebanyakan yang
dengan mudah dapat melanjutkan pendidikan dari satu jenjang ke jenjang
berikutnya. Tidak bagiku.
Di awali dari sebuah pertanyaan
seorang guru di masa sekolah dasar, pada bangku 3. Beliau bertanya tentang
cita-cita. Hei, anak kelas 3 SD saat itu pun saat ini aku rasa sama, menganggap
cita-cita masih hanya sebagai sebuah kata. Tapi tetap saja kita harus mengisi
pertanyaan itu dengan kata yang menjadi cita-cita kita, jika tidak kita akan
mendengar banyak motivasi dari guru kita, ya kan? Hehehe. Pada akhirnya kata yang terucap saat menjawab pertanyaan itu, tidak tahu bagaimana aku hanya
menjawab guru, ya cita-citaku saat itu
menjadi seorang guru. Tidak sampai di situ saja, beliau meminta sebuah alasan
dari apa yang aku cita-citakan. Di dalam ruang kelas itu, pada bangku 3, aku
berpikir “Mengapa aku ingin menjadi seorang guru?” Kemudian aku perhatikan
beliau (guru) yang ada di depan kelas sampai akhirnya aku menemukan alasannya.
Nama : Ina Maria
Kelas : 3
Cita-cita : Guru (Menjadi seorang guru)
Alasan : Supaya dapat membuat orang lain (baca: murid) pintar.
Cita-cita : Guru (Menjadi seorang guru)
Alasan : Supaya dapat membuat orang lain (baca: murid) pintar.
Itulah alasan yang selalu aku
ingat sepanjang hidupku. Dari situlah aku tahu mengapa aku memilih untuk kuliah
pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Dari situlah, kini aku benar
menjadi seorang sarjana pendidikan, benar aku seorang guru, dan in shaa Allah
apa yang menjadi alasanku pada bangku 3 itu akan terwujud.
Namun tidak sesingkat itu
perjalanan seorang guru ini. Itu terdengar begitu ringan dan mudah. Apa ada
yang tahu, kedua orang tuaku bahkan pernah takut, takut mendengar cita-cita
anaknya itu. Mereka tidak pernah berani untuk membayangkannya. Hingga akhirnya
aku berjuang sendiri, meyakini dan mengingatkan keduanya tentang adanya
kemudahan setelah kesulitan. Hingga akhirnya mereka merestui tekadku yang
begitu bulat. Masalah yang di temui dalam perkuliahan, adalaha masalah
mahasiswa kebanyakan. Kita pernah mengalami itu semua dan tidak perlu kita
ceritakan bukan? Sebab itulah yang di sebut proses.
Hal yang begitu aku idamkan
adalah, melihat kedua orang tuaku melihatku memakai pakaian kebesaran sarjanawan, memakai
toga di hadapan mereka. Kalian tahu, betapa bahagia melihat sumringah mereka
saat anak gadisnya memakai itu. Tentu saja tidak berhenti di sana, alhamdulillah, berkat
proses yang sungguh-sungguh dalam meraih cita-cita itu, aku berhasil memberikan
predikat lulusan terbaik bagi kedua orang tuaku. Dari lebih dari 500
sarjanawan, aku bersama 15 sarjanawan lainnya mendapat predikat lulusan terbaik
yang akan kami persembahkan pada orang-orang kesayangan kami, pada kedua orang
tua kami.
Untuk itu, selama hidupku, benar
bahwa hanya itu yang baru bisa aku persembahkan kepada mereka. Hanya itu dan
baru itu. Kelak, mimpi dan ambisiku yang lain yang sedang dalam proses akan
kuulangi membuat sumringah di wajah mereka. Akan kuulangi kebahagiaan itu, lagi
dan lagi. Bismillahirohmaanirrohim.
11 November 2017
Kata Siapa Menjadi Pendidik itu Sulit?
Kata siapa
menjadi pendidik itu sulit? Berdiri di depan kelas, memeriksa kehadiran siswa,
memberi materi (baca: catatan), memberi tugas (baca: kerjakan LKS), menilai.
Itu saja bukan? Melulu itu saja, ya toh?
Ya,
tugas seorang pendidik memang tidak jauh dari hal-hal di atas. Tambah lagi, di
lapangan, bahkan saya sendiri pernah mengalaminya. Saya juga pernah duduk di
antara barisan peserta didik, menerima materi dan tugas dari mereka yang ada di
depan saya. Bukan hal aneh jika hari-hari kita di penuhi dengan catatan (CBSA:
Catat Buku Sampai Abis) dan LKS kita penuh dengan coretan. Duh, di sini saya
baru menyadari pentingnya metode ceramah (jika tidak monoton ya). Sebab masa
menjadi peserta didik, ‘tanpa perhatian’ baru akan di rasakan beberapa tahun
kemudian. Nihil pengetahuan, sebab ‘belajar bersama buku’ tidaklah berarti
tanpa guru.
Tentu,
tidak semua guru ‘cuek’ terhadap peserta didik. Buktinya saja, dari ragam
pendidik yang saya temui, sejak SD, SMP, SMA, bahkan di perguruan tinggi mereka
berhasil membuat saya berdiri di depan barisan peserta didik. Terima kasih
banyak atas jasa mereka, jasa guru-guru, pun dosen-dosen saya. Termasuk mereka
yang sedikit ‘cuek’, terima kasih. Jasa mereka tidaklah terbayarkan, sungguh.
***
Hm, mari
kembali pada pertanyaan pertama pada kalimat awal tulisan ini. Kata siapa
menjadi peserta didik itu sulit? Jelas jawaban saya adalah “kata saya”. Sedikit
bingung ya? Di awal saya mengatakan bahwa tugas pendidik sekedar memeriksa
kehadiran siswa, memberi materi, tugas, dan memberi nilai. Itu-itu saja. Tapi
tidak, ternyata tidak sesederhana itu. Untuk lebih jelasnya, mari kita coba
mengartikan kata ‘pendidikan’ dulu ya. Pendidikan berasal dari kata didik yang
mendapatkan awalan me- lantas menjadi
mendidik yang berarti memelihara dan
memberi latihan. Dalam melakukan dua kegiatan tersebut (memelihara dan memberi
latihan) diperlukan adanya sebuah pengajaran, tuntunan dan pimpinan mengenai
akhlak dan kecerdasan pikiran. Sehingga didapati pengertian dari kata pendidikan
itu. Pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau
kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui usaha pengajaran dan
pelatihan (Islamuddin, 2010, p.3).
Mengetahui
arti dari pendidikan itu saja membuat tanggung jawab diri ini bertambah, proses perubahan sikap dan tingkah laku
seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui usaha
pengajaran dan pelatihan bukankah
itu tidak sesederhana seperti apa yang telah saya jabarkan di muka? Memberikan pengajaran
dan pelatihan bagi orang lain, apalagi kepada peserta didik yang jumlahnya
lebih dari satu, dengan ragam karakteristik peserta didik, dengan ragam intelegensi
peserta didik, dengan ragam latar belakang peserta didik. Tidak sesederhana
itu.
Di
sini, mungkin saya membutuhkan beberapa bacaan yang dapat membantu saya
menguasai kelas dengan baik. Tapi bukan berkenaan dengan materi pembelajaran,
melainkan teori tentang penguasaan peserta didik. Sebab, menguasai peserta
didik adalah PR bagi saya, bagi guru pemula. Mengapa menjadi PR? Mungkin selama
ini saya terbiasa mengajar di kelas yang memiliki kualitas B hingga A, yang membuat
proses pembelajaran saya menjadi mudah. Kemudian, kini saya berdiri di depan
kelas yang memiliki kualitas cukup, membuat banyak PR untuk saya sendiri. Saya
benar-benar bertanya, usia berapa anak memiliki daya nalar? Sebab saya
menemukan banyak di antara mereka yang dengan sulitnya menjawab pertanyaan,
meski pertanyaan itu di mulai dengan kata ‘apa’ belum sampai ke ‘bagaimana’. Banyak
sekali yang harus saya pelajari di sini. Banyak sekali yang harus saya koreksi
pada diri ini.
Menurut
buku yang saya baca, perkembangan anak mempengaruhi kemampuan belajarnya. Ya itu
sudah jelas dan pasti. Di sini ada sebuah dilema yang saya rasakan. Dalam proses
pembelajaran, sekolah memiliki standar kompetensi yang sudah di atur
pemerintah. Untuk memenuhi standar-standar itu, saya berhadapan dengan
anak-anak yang terlalu santai dan begitu kurang perhatian. Membiasakan mereka
untuk disiplin saja sangat sulit. Membiasakan mereka untuk mau belajar saja
sulit. Saya tidak tahu siapa yang harus bertanggung jawab atas itu semua, orang
tua, lingkungan, diri mereka sendiri, sekolah, ataupun guru? Yang jelas, saat
ini saya memiliki tanggung jawab untuk memberikan kelayakan bagi pendidikan
mereka. Meski sulit, namun saya akan terus belajar. Saya berharap diri ini mampu
menjalankan kewajiban, sesulit apapun jalan di depannya, saya akan terus
berusaha. Semangat!
Referensi: Islamuddin,
H. (2012). Psikologi pendidikan.
Jember: Pustaka Belajar.
10 November 2017
Perihal yang Pasti dan yang Belum
Sudah berapa kali
hati menangis sebab
cinta pada
yang
belum pasti?
Tanya yang selalu datang sebab
hati yang lagi
lagi, menangis
sudah
berapa kali?
Kepada siapa hati
bermuara?
tak satupun
tahu
Kepada siapa jiwa 'kan
bermuara?
Rabbmu, Tuhanmu
Allah saja.
sudah pasti
Kepada yang belum pasti
dunia
cinta
rupa
harta
di jual
fana, tiada peduli
yang kekal
yang pasti
Kepada yang pasti
sebab tangis,
sebab sakit, sebab kecewa
mendekat, meringkuk di kaki bumi
dengan kata-kata
kecewa tersusun
rapih
lupa
untuk
khusyu akan
doa utama
lupa
nikmat
ibadah
sibuk
dengan berkeluh
akan sakitnya harap pada dunia fana yang
beri kecewa
kecewa saja
hanya mengeluh tentang
sakitnya diri
tanpa ingat ruhiyah
keropos,
rapuh
kayu yang dirayapi
terkikis
keropos, rapuh
kepada yang pasti
kembali,
rapuh
debu, angin
tiada.
4 November 2017
Aku Pernah
Sayang
Ini bukan seutuhnya salahmu
Aku yang mengelakkan sendiri
Ketiadaanku pada matamu waktu itu
Aku pernah menatapmu, sayang
Melihat dengan seluruh hatiku
Menjelajahi matamu yang begitu pasi
Ketiadaanku di matamu masa itu
Adalah jawaban atas
Ketiadaanmu di sini, saat ini
Ini bukan seutuhnya salahmu, sayang
Sebab diri ini terlalu mengelakkan
Kenyataan tentang letak keberadaanku
Pada hatimu waktu itu
Yang ternyata
Tidak di mata juga hatimu
Sayang, ini bukan salahmu
Sebab baru kemarin kau kata takut kehilanganku dalam pandanganmu
Padahal ku tahu, aku telah
hilang lebih dulu
Dari mata dan hatimu
Ini bukan salahmu sayang, aku yang terlalu tertatih mencari tempatku padamu
Yang ternyata benar, aku tidak di mata dan hatimu
Sudahlah sayang
Usah bersandiwara dengan riak di wajahmu
Usah kau permainkan berlalunya waktu
Yang kita habiskan bersama
Sebab ku tahu benar aku tidak di hatimu, lagi
3 November 2017
SASTRA ANAK: DONGENG
Di suatu hutan, hiduplah sekelompok
sahabat, yaitu Semut, Gajah, dan Laba-laba. Mereka hidup berdampingan dan
saling menolong. Tiga kawanan ini memiliki kemampuan khusus masing-masing.
Semut memiliki akal yang cerdik dan memiliki sifat seperti pemimpin. Gajah,
selain memiliki badan yang kuat dan besar, ia juga memiliki sifat bijaksana,
selalu memberi nasehat dan perlindungan pada teman-temannya jika terjadi suatu
konflik. Sedangkan Laba-laba, memiliki kegigihan dan kerja keras, ia hewan yang
paling sabar di antara teman- temannya. Meskipun banyak perbedaan, mereka hidup
rukun seperti keluarga.
Musim penghujan berlalu, sebentar
lagi kemarau akan datang. Tiga kawanan ini bermaksud untuk mengumpulkan
persediaan makanan. Mereka juga mencari tempat perlindungan yang aman untuk
tinggal dimusim kemarau.
“Teman-teman,
sebentar lagi musim akan berganti, kita harus mencari persediaan makanan dan
tempat perlindungan”. Ucap semut.
“Iya, kita harus
bergerak cepat sebelum kemarau datang”. Laba-laba menambahkan.
“Kita harus
berbagi tugas teman, agar pekerjaan kita cepat selesai”. Gajah memberi saran.
Akhirnya, mereka sepakat untuk
membagi tugas. Semut bertugas untuk mencari buah-buahan kecil dan makanan,
Gajah bertugas untuk mengumpulkan ranting pohon, sedangkan Laba-laba bertugas mencari
tempat tinggal untuk musim kemarau. “Kita akan berkumpul disini lagi sebelum
petang” Gajah menambahkan. Mereka sepakat dan segera mengerjakan tugas
masing-masing. Mereka mengerjakan tugas dengan baik. Namun di tengah perjalanan
Gajah dikejutkan dengan suara senapan. Setelah dilihat, ternyata ada seorang
pemburu sedang mengintai seekor Kijang. Pemburu itu membawa pedang panjang dan
senapan. Gajah merasa takut dan hendak melarikan diri. Namun ketika Gajah
berlari, kakinya tersandung akar pohon, sehingga keberadaannya dilihat oleh
Pemburu. Pemburu itu menoleh ke arah Gajah sambil menodongkan senapannya “Wah…
wah… santapan besar, mau kemana kau Gajah cantik. Gadingmu begitu membuatku
terpukau” Pemburu itu menatap Gajah dengan sangar. Gajah sangat ketakutan,
kemudian ia menarik ranting pohon yang lumayan besar dan melemparkannya pada
Pemburu itu hingga Pemburu terjatuh. Pemburu murka “Gajah nakal, jangan coba
kau bermain-main denganku”. Gajah berlari. Pemburu tertatih dan menembakkan
senapannya, namun meleset. Gajahpun berhasil meloloskan diri. Pemburu mengumpat
“Sembunyilah wahai gajah, badanmu yang besar itu akan selalu terlihat di mataku,
tunggu saja. Aku akan datang lagi untukmu”.
Gajah tergopoh dengan kakinya yang
terluka, ia berhasil kabur dari Pemburu jahat dan berhasil kembali ke tempat
perjanjian mereka. Gajah menunggu kedua sahabatnya. Hingga petang, kedua
sahabatnya datang dengan wajah letih namun ceria.
“Hai Gajah, apa
yang kau dapat hari ini? aku menemukan tempat persembunyian aman buat kita
nanti, di seberang sungai sana”. Laba-laba sumringah.
“Aku menemukan
banyak ladang buah di hutan seberang, besok kita akan memanennya”. Tambah
semut.
Gajah hanya murung. Semut melihat
kaki Gajah yang terluka. “Wahai sahabatku, ada apa dengan kakimu?”. “Aku tadi
bertemu dengan seorang Pemburu”. Kedua sahabatnya terkejut. “Dia akan kembali
lagi besok untuk menangkapku kawan, apa yang harus aku lakukan”. Gajah terisak.
Kedua sahabatnya saling menatap. “Kita harus melakukan sesuatu pada Pemburu
itu”. Ucap Semut. “Kita harus membuat jebakan”. Laba-laba memberi ide. “Tapi
pemburu itu membawa pedang panjang dan senapan”. “Jangan khawatir, jangan
pernah meragukan kekuatan kita”. Semut memberi semangat. “Tapi, jangan sampai
kita bunuh orang itu, di Desa pasti ada keluarga yang menunggunya” Gajah risau.
Kemudian semua mengangguk. Kawanan itu merancang suatu rencana, mereka hanya
ingin membuat Pemburu itu merasa jera dan tidak berburu di hutan itu lagi.
Pagi hari, Gajah merasa kakinya membaik,
dia dan kedua sahabatnya sudah siap dengan rencana mereka. Sebelum melakukan
rencananya mereka mencari buah-buahan untuk mengisi perut mereka sambil
bersenda gurau. Di tengah perjalanan, mereka dikejutkan oleh suara
senapan. Tiga kawanan itupun siap menjalankan rencana mereka.
“Iya, itu
pemburu kemarin”. Bisik Gajah. Laba-laba siap untuk membuat jebakan. Ia membuat
sebuah jaring yang besar dan tebal. Tidak butuh waktu yang lama bagi Laba-laba
membuat jaring itu. Kemudian Gajah memancing Pemburu itu dengan suaranya.
Pemburu terpancing dan berjalan kearah Gajah. Ia tidak tahu bahwa di depannya
ada sebuah jaring Laba-laba, hingga akhirnya wajahnya terperangkap
jaring-jaring itu, Pemburu terjatuh. Semut memberi kode pada Segerombolan Lebah
untuk menyerang Pemburu itu. Pemburu yang
terjatuh itu, disengati Lebah. Dia berteriak minta ampun dan beusaha berdiri
kemudian melarikan diri dari hutan itu dengan tergopoh. Wajah dan tubuhnya
bengkak disengat Lebah, kakinya luka karena terjatuh.
Tiga kawanan itu berhasil mengusir
Pemburu dari hutan itu, mereka berterima kasih pada Lebah yang sudah membantu
penyerangan. “Pemburu itu juga sering mencuri madu-madu kami, kami juga sudah
geram dengan ulahnya” Lebah menjelaskan. Akhirnya Tiga kawanan itupun
melanjutkan rencana awal mereka untuk mencari tempat tinggal yang aman di musim
kemarau, sebelumnya mereka mengumpulkan buah-buahan dan makanan dari tempat
yang sudah ditunjuk oleh semut. Mereka mengajak Lebah, namun lebah lebih
memilih tempatnya sendiri. Mereka berpisah di pinggir sungai. Tiga kawanan itu
menyebrangi sungai menuju goa sedangkan Gerombolan Lebah terbang berdampingan.
Bintang
Ini malam yang menangis. Sentuhan angin terasa sangat menusuk bagi seorang bocah-yang tidak biasa untuk menari di kolong langit saat ini. Namun riak wajahnya tidak menunjukkan betapa ia sangat menggigil. Langkahnya seirama dengan tiap tetes air yang turun. Ia tampak begitu hidup.
Bahkan bintang-bintang di dinding langitpun enggan untuk bermain. Hanya ada
satu Bintang yang terlihat begitu menikmati malam ini. Bocah dengan t-shirt hitam bertuliskan I Love Palembang itu bernyanyi di lorong jalan dengan
kaki telanjang. Bajunya yang kuyup menunjukkan betapa kurus tubuh putihnya.
Wajahnya-yang tidak biasa membuat orang-orang yang berlindung di bawah
teras-teras ruko menodongkan wajah heran. Ada mata sipit yang disipit-sipitkan,
ada juga mata-mata sipit yang melotot, menggeleng-gelengkan kepala.
Dari ujung jalan terlihat seorang wanita tua, berteriak, kemudian berlari.
Payung yang dibawanya ikut melambai-lambai mengikuti tarian bocah-yang tidak
biasa itu.
“Bintang? Kenapa
hujan-hujanan?” Seru wanita berdaster itu.
Anak yang di panggil Bintang menunjukkan wajah tanpa nada. Tangannya menunjuk
ke sumber turunnya air. Wanita itu nampak khawatir, wajahnya gelisah. Di
tuntunlah bocah itu berjalan, masuk ke dalam sebuah rumah berdinding abu-abu.
Di bawalah ia ke dalam kamar mandi. Dilucuti semua pakaian yang dipakainya.
Bocah-yang tidak biasa itu berteriak, menyerukan kepada ibunya bahwa ia sedang
bermain. Wajah sang ibu tampak mendung, menjadikan malam ini benar-benar
menangis.
Bintang menundukkan kepala, pasrah terhadap setiap sentuhan dari Ibu. Kini
bocah itu sudah tampak merah, aroma minyak telon keluar dari tubuhnya yang di
balut sweater rajut berwarna putih bertuliskan I Love Mom. Ia berbaring di
tempatnya, Ibunya masih sibuk dengan hujannya sambil menarikkan selimut pada
tubuh Bintang. Bintang bangun, menyenderkan tubuhnya pada bantal. Di raihnya
wajah sang ibu. Bintang tampak berkaca-kaca. Tangannya yang sudah hangat
menempel pada sepasang pipi Ibunya. Dikecuplah kening Ibunya, mata dan wajahnya
seolah berkata “maaf bu, sudah
membuatmu khawatir”. Disekalah air mata ibunya, lalu memeluk tubuh wanita
yang tangisnya semakin menjadi. Bintang menyunggingkan senyum di wajah
polosnya, berharap ibunya ikut tersenyum. Wanita itu bergumam “maaf nak, ibu tidak bermaksud
mengganggumu, ibu hanya takut kehilanganmu”. Bintang menggelengkan
kepalanya, lalu berlagak menjewer kedua telinganya sambil tersenyum. “Lain kali, bilang sama ibu kemana
kau akan pergi. Ok?”. Bintang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ah, malam ini penuh dengan air.
Disela-sela harunya kamar Bintang, terdengar suara perut dari balik sweater rajut berwarna putih. Bintang melotot,
ibunya terkekeh- lalu Bintang juga. Tanpa aba-aba lagi ibunya beranjak dari
kamar itu.
Tidak lama kemudian, ia kembali membawa dua mangkuk Indomie Soto dilengkapi dengan telur dan sayur. Ada
dua gelas coklat hangat juga di atas nampan itu. Bintang dengan sigap melompat
dari atas kasur, merengek pada ibunya untuk berjalan lebih cepat. “Bu, cepatlah aku lapar” wajahnya bertingkah. Merekapun
menikmati malam ini dengan sempurna.
Bintang mengelus-elus perutnya yang sudah mengembung. “Eeeekh”. Bocah itu bersendawa,
lalu terkekeh, diusul dengan ibunya. Bocah 10 tahun itu bangkit dari posisinya,
mengangkat sisa makan malam mereka dan membawanya ke dapur. Tubuhnya berbicara “Ibu, mari kita ke kamar. Ibu harus
istirahat”. Wanita itu menggelengkan kepala. “Ibu tidak boleh membantah” . Bintang meraih tangan ibunya,
menuntunnya masuk ke dalam ruang istirahat bercat merah muda. Ada sebuah foto
keluarga berdiri di atas meja, Ayah, Ibu dan Bintang di usia 3 bulan. Foto itu
dibalut dengan frame hitam dan ukiran mawar di setiap
sudut. Bintang meliriknya lalu memalingkan wajahnya dari sana. Ia menatap
ibunya, membaringkan tubuh dan menyelimuti tubuh ibunya. “Selamat malam bu, I Love You”. Bintang mengecup kening ibunya. Ibunya
tersenyum. Bocah- yang tidak biasa itu berdiri. Sekali lagi ia melihat frame berukir mawar. Sekali lagi ia melihat
ibunya yang sudah pura-pura tidur. Lalu keluar menuju kamarnya.
Di malam yang sama, pada atap yang sama, pada
ruangan yang sama yang hanya di pisahkan oleh dinding. Kedua anak beranak itu
memikirkan hal yang sama. Pada peristiwa 7 tahun silam, ketika orang tua Bintang
menyadari anaknya mulai tumbuh dengan perbedaan. Ayahnya murka, lalu pergi
begitu saja meninggalkan kedua beranak itu, menyisahkan luka yang sangat
mendalam bagi Ibunya. Bintang yang mulai tumbuh sama halnya dengan anak
lainnya, yang memiliki banyak tanya dalam diri. Hingga dia tahu kebenaran itu.
Kini keduanya masih sangat mengingat dengan kuat kejadian itu. Di malam yang
menangis, mereka menangis bersama di ruang yang di pisah oleh dinding.
Emak
“Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan” suara Zainudin MZ dalam tausiyahnya di saluran radio lokal, terdengar sayup-sayup dari kamar Emak. Pada matahari yang terlalu condong ke barat, di gelapnya kamar bercahayakan sebuah lampu minyak, Emak terduduk khidmat mendengarkan cicitan radio yang berusaha bertahan dengan sisa-sisa tenaganya. Sesekali wanita paruh baya itu terlihat menganguk-anggukkan kepala, sesekali ikut terkekeh mendengar lelucon islami yang di sampaikan Ulama kondang itu.
“Allahu akbar… Allahu akbar…..”
“Lah, sudah adzan. Alhamdulillah”.
Emak beranjak dari posisi nyamannya. Terseok dengan langkah kecil menuju kamar
mandi berdinding bilik bambu. Di sana ada sebuah ember ukuran 5 liter dengan
lubang kecil bersumbat kayu. Emak menarik sumbatan kayu itu. Nampak air segar
mengalir dari lubang. Emak berdoa, membasuh wajahnya yang dipenuhi garis-garis
usia.
Tiga rakaat ia tunaikan. Tampak khusyuk dengan balutan mukena yang putihnya
dimakan hari. Di akhir salam, Emak tak lupa mengadahkan kedua tangan, memohon
doa kepada Sang Pencipta.
“Tok… tok… tok… Assalamualaikum”
“Mak, Emak… Assalamualaikum” terdengar suara bocah dari luar rumah.
“Waalaikumussalam,
ya. Tunggulah sebentar” Suara serak Emak terdengar bersemangat. Emak berjalan menuju
pintu, dan membukanya.
“Masuklah, masuk” Sambut wanita itu. Emak terlihat celingukan.
“Mak, Si Duwi ndak bisa datang. Kata ibunya, Duwi lagi
sakit” Ucap bocah delapan tahun dengan wajah polosnya.
“Ooo, yasudah. Kita berdua saja hari ini ya? Kita langsung mulai saja”
“Iya Mak”
Si anak mulai membaca Al- Fatihah disusul dengan doa pembuka sebelum mengaji.
Emak membuka Iqro, membuka lembaran yang akan di baca oleh Rahman. “Man, kamu
lanjutkan bacaan kemarin” Emak menunjukkan lembaran yang di maksud. Bocah itu
langsung menuruti perintah Emak. Rahman nampak lancar membaca huruf demi huruf,
sesekali ada sedikit huruf yang keliru, Emak menuntunnya dengan cermat.
“Shodaqollahul adziim” Rahman mengakhiri bacaannya. “Alhamdulillah,
besok iqro ini kamu kasihkan sama Si Duwi, kamu tidak usah pakai iqro ini lagi.
Karena kamu sudah naik kelas” Emak berdiri dari tempat duduknya, menyalakan
sebuah senter yang sedari tadi setia di samping Emak. Mengarahkannya ke gerobok
reot di samping jendela rumah. Tangannya meraba ke dalam gerobok, mengambil
sebuah kitab yang nampak lusuh.
“Man, ini hadiah dari Emak karena kamu berhasil tamat duluan dari
Si Duwi” Emakmenyerahkan
Al-qur’an tua kepada Rahman.
“Wah, Mak, terimakasih banyak Mak” Rahman nampak girang sambil
menciumi telapak tangan Emak.
“Tapi Mak, nanti Emak ndak ada bacaan kalo ini buat Rahman”
“Kamu tenang saja, Emak masih ada satu dikamar. Pokoknya kamu
yang rajin belajar, rajin mengaji, itu akan sangat berguna untuk kamu.
Kamu juga harus ingat, Al-qur’an ini warisan dari Emak, harus kamu jaga, harus
kamu rawat. Meskipun sudah tua, Al-qur’an ini tidak akan pernah berubah
kandungannya, sama kayakEmak. Meskipun Emak sudah tua, Emak tidak akan pernah berubah, Emak akan selalu nungguin kamu sama
Duwi tiap abis maghrib di gubuk ini” ucap Emak, setengah terkekeh.
Rahman menganguk-angguk sambil menggaruk-garuk (bingung).
“Terimakasih banyak ya mak, besok Rahman ajakin Duwi kalo dia sudah waras”
“Ya… ya… sekarang kamu pulanglah, sudah malam”
“Iya mak, assalamualaikum”
“Waalaikumussalam”
Emak mengantar Rahman sampai depan pintu. Ia
mengawasi punggung rahman. Lalu masuk ke dalam rumah setelah Rahman benar-benar
ditelan pintu rumahnya. Sumringah di wajah senja mulai gugur. Kembali ia dengan
teman setianya, bersendagurau dengan radio kesayangannya. Kali ini saluran
lokal mengudarakan lagu-lagu pujian dan solawat. Khidmat. Wajah lusuh itu
berkomat kamit mengikuti nada.
Besok adalah hari jumat. Wanita separuh abad itu teringat pengajian di musola.
Bergegas ia berdiri, tertatih langkahnya, bergetar tangannya membuka gerobok
baju. Pintu gerobok berdecit membuat wanita itu bergumam “Wahai gerobok,
tubuhmu renta sama halnya denganku. Kita melangkah saja sendi-sendi terasa
menjerit” Ia terkekeh. Diambilnya dari dalam perut gerobok sebuah mukena-yang
lebih putih dari mukena yang biasa digunakannya dirumah. Mengelus-elusny dan
memasukkannya ke dalam tas plastik. Duduklah ia di atas tempat tidurnya,
mengangkat bantal dan mengambil sebuah dompet bertuliskan “Emas Asli 24
Karat”. Diambilnya uang
pecahan limaribuan dan memasukannya ke dalam tas berisi mukena.
Empat rakaat dilaksanakannya. Seperti biasa, di akhir salamnya ia selalu
menyampaikan solawat dan doa, meminta ketenangan dan ketentraman jiwa. Malam
berlanjut, malam ini Emak tidak melepas mukenanya Ia merasa
sangat lelah untuk menggantungkan mukenanya. Ia berbaring dengan sunyi. Radio
kesayangannya terlebih dulu terlelap dalam nostalgia malam. Hanya nyanyian
jangkrik yang meninabobokkan wanita renta itu. Wajahnya yang lusuh berbalut
mukena lusuh, pulas dengan tidurnya malam ini. Hingga mentari mulai tinggi, ia
tetap tertidur pulas dengan mukena dan wajah yang lusuh- tampak tenang, tanpa
beban.
Palembang, 2
Desember 2016
PROLOG
Hiii, ini adalah
postingan pertama saya setelah ribuan hari tidak menyentuh blog ini. Mohon maaf
sebelumnya, sebab postingan terdahulu sudah tidak dapat ditemukan lagi di sini.
Saya merasa beberapa postingan terdahulu cukup alay untuk tetap menetap. Ya, kita
semua tahu jika ingin bergerak maju alangkah baik jika kenangan masa lalu tidak
banyak ikut campur dalam sejarah baru kehidupan kita. Kita juga tahu bahwa
tidak ada salahnya jika tetap menjadikan kenangan masa lalu sebagai sejarah,
toh itulah diri kita yang sebenarnya. Hal baik, hal buruk, hal setengah baik,
maupun setengah buruk yang pernah kita lewati adalah masa transisi kita. Tapi
setelah menimbang, saya memutuskan untuk menghapusnya dan akan menggantinya
dengan postingan-postingan baru yang saya harap dapat bermanfaat bagi saya
maupun pembaca. Cekidot!
Duh, tapi saya
bingung nih mau memulai dengan postingan apa saat ini. Ada ide? Atau saya mulai
dengan sedikit berpuisi ria saja ya? Yuk ah...
Pada Kelabu di Tengah
Jinggaku
Hai, ini kesekian
kalinya kulihat dirimu
Berdiri di tengah
jinggaku
Kau tahu betapa aku
menyukai jinggaku tapi
Kau seenaknya saja
berdiri di sana
Bagaimana mungkin aku
kan menyukaimu
Jika kau hanya
membuat pipiku basah
Aku tidak pernah
mengharapkan aku
Membencimu
Atau
Sekedar mengalihkan
pandanganku
Dari dirimu
Tapi
Kau yang
Memaksaku
Mejauhimu sebab kau
hanya membuat pipiku basah
Sesak dadaku
menatapmu, kelabu
Begitu sulit aku
mengertimu
Jangan buat aku
menerka arti dari setiap senyummu,
Meski kau tahu aku
pernah sungguh tersenyum untuk
Dan karenamu
Jangan buat aku
menerka arti dari tatapan kosongmu
Meski kau tahu aku
sungguh hanya melihatmu,
Lebih dari jinggaku
Jangan paksa aku
untuk menyukaimu, lagi
Sebab sendiri di sini
tidak senikmat
Aku menatap jinggaku
kini.
Kau begitu kelabu
hingga aku
Tak tahu apapun
Tentangmu.
Langganan:
Komentar (Atom)









