2 Desember 2017

Terima Kasih, Diriku di Bangku 3 SD


Terima Kasih, Diriku di Bangku 3 SD

                Tidak peduli apa dan bagaimana. Jika aku telah berniat memutuskan suatu hal, mau tidak mau, sulit tidak sulit, suka tidak suka maka itu harus terjadi. Tidak peduli apapun, jika restu kedua orang tua sudah di tangan, maka Allah akan meridhoi setiap langkahku, memudahkan jalanku. Itu yang aku percaya dan selalu aku pegang teguh dalam diri. Ini adalah salah satu ambisi dalam hidupku. Tidak seperti orang kebanyakan yang dengan mudah dapat melanjutkan pendidikan dari satu jenjang ke jenjang berikutnya. Tidak bagiku.
                Di awali dari sebuah pertanyaan seorang guru di masa sekolah dasar, pada bangku 3. Beliau bertanya tentang cita-cita. Hei, anak kelas 3 SD saat itu pun saat ini aku rasa sama, menganggap cita-cita masih hanya sebagai sebuah kata. Tapi tetap saja kita harus mengisi pertanyaan itu dengan kata yang menjadi cita-cita kita, jika tidak kita akan mendengar banyak motivasi dari guru kita, ya kan? Hehehe. Pada akhirnya kata yang terucap saat menjawab pertanyaan itu, tidak tahu bagaimana aku hanya menjawab guru, ya cita-citaku saat itu menjadi seorang guru. Tidak sampai di situ saja, beliau meminta sebuah alasan dari apa yang aku cita-citakan. Di dalam ruang kelas itu, pada bangku 3, aku berpikir “Mengapa aku ingin menjadi seorang guru?” Kemudian aku perhatikan beliau (guru) yang ada di depan kelas sampai akhirnya aku menemukan alasannya.

Nama                    : Ina Maria
Kelas                     : 3
Cita-cita           : Guru (Menjadi seorang guru)
Alasan                   : Supaya dapat membuat orang lain (baca: murid) pintar.

                Itulah alasan yang selalu aku ingat sepanjang hidupku. Dari situlah aku tahu mengapa aku memilih untuk kuliah pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Dari situlah, kini aku benar menjadi seorang sarjana pendidikan, benar aku seorang guru, dan in shaa Allah apa yang menjadi alasanku pada bangku 3 itu akan terwujud.
                Namun tidak sesingkat itu perjalanan seorang guru ini. Itu terdengar begitu ringan dan mudah. Apa ada yang tahu, kedua orang tuaku bahkan pernah takut, takut mendengar cita-cita anaknya itu. Mereka tidak pernah berani untuk membayangkannya. Hingga akhirnya aku berjuang sendiri, meyakini dan mengingatkan keduanya tentang adanya kemudahan setelah kesulitan. Hingga akhirnya mereka merestui tekadku yang begitu bulat. Masalah yang di temui dalam perkuliahan, adalaha masalah mahasiswa kebanyakan. Kita pernah mengalami itu semua dan tidak perlu kita ceritakan bukan? Sebab itulah yang di sebut proses.
                Hal yang begitu aku idamkan adalah, melihat kedua orang tuaku melihatku  memakai pakaian kebesaran sarjanawan, memakai toga di hadapan mereka. Kalian tahu, betapa bahagia melihat sumringah mereka saat anak gadisnya memakai itu. Tentu saja tidak berhenti di sana, alhamdulillah, berkat proses yang sungguh-sungguh dalam meraih cita-cita itu, aku berhasil memberikan predikat lulusan terbaik bagi kedua orang tuaku. Dari lebih dari 500 sarjanawan, aku bersama 15 sarjanawan lainnya mendapat predikat lulusan terbaik yang akan kami persembahkan pada orang-orang kesayangan kami, pada kedua orang tua kami.

                Untuk itu, selama hidupku, benar bahwa hanya itu yang baru bisa aku persembahkan kepada mereka. Hanya itu dan baru itu. Kelak, mimpi dan ambisiku yang lain yang sedang dalam proses akan kuulangi membuat sumringah di wajah mereka. Akan kuulangi kebahagiaan itu, lagi dan lagi. Bismillahirohmaanirrohim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar