Terima Kasih, Diriku di Bangku 3 SD
Tidak peduli apa dan bagaimana. Jika
aku telah berniat memutuskan suatu hal, mau tidak mau, sulit tidak sulit, suka
tidak suka maka itu harus terjadi. Tidak peduli apapun, jika restu kedua orang
tua sudah di tangan, maka Allah akan meridhoi setiap langkahku, memudahkan
jalanku. Itu yang aku percaya dan selalu aku pegang teguh dalam diri. Ini
adalah salah satu ambisi dalam hidupku. Tidak seperti orang kebanyakan yang
dengan mudah dapat melanjutkan pendidikan dari satu jenjang ke jenjang
berikutnya. Tidak bagiku.
Di awali dari sebuah pertanyaan
seorang guru di masa sekolah dasar, pada bangku 3. Beliau bertanya tentang
cita-cita. Hei, anak kelas 3 SD saat itu pun saat ini aku rasa sama, menganggap
cita-cita masih hanya sebagai sebuah kata. Tapi tetap saja kita harus mengisi
pertanyaan itu dengan kata yang menjadi cita-cita kita, jika tidak kita akan
mendengar banyak motivasi dari guru kita, ya kan? Hehehe. Pada akhirnya kata yang terucap saat menjawab pertanyaan itu, tidak tahu bagaimana aku hanya
menjawab guru, ya cita-citaku saat itu
menjadi seorang guru. Tidak sampai di situ saja, beliau meminta sebuah alasan
dari apa yang aku cita-citakan. Di dalam ruang kelas itu, pada bangku 3, aku
berpikir “Mengapa aku ingin menjadi seorang guru?” Kemudian aku perhatikan
beliau (guru) yang ada di depan kelas sampai akhirnya aku menemukan alasannya.
Nama : Ina Maria
Kelas : 3
Cita-cita : Guru (Menjadi seorang guru)
Alasan : Supaya dapat membuat orang lain (baca: murid) pintar.
Cita-cita : Guru (Menjadi seorang guru)
Alasan : Supaya dapat membuat orang lain (baca: murid) pintar.
Itulah alasan yang selalu aku
ingat sepanjang hidupku. Dari situlah aku tahu mengapa aku memilih untuk kuliah
pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Dari situlah, kini aku benar
menjadi seorang sarjana pendidikan, benar aku seorang guru, dan in shaa Allah
apa yang menjadi alasanku pada bangku 3 itu akan terwujud.
Namun tidak sesingkat itu
perjalanan seorang guru ini. Itu terdengar begitu ringan dan mudah. Apa ada
yang tahu, kedua orang tuaku bahkan pernah takut, takut mendengar cita-cita
anaknya itu. Mereka tidak pernah berani untuk membayangkannya. Hingga akhirnya
aku berjuang sendiri, meyakini dan mengingatkan keduanya tentang adanya
kemudahan setelah kesulitan. Hingga akhirnya mereka merestui tekadku yang
begitu bulat. Masalah yang di temui dalam perkuliahan, adalaha masalah
mahasiswa kebanyakan. Kita pernah mengalami itu semua dan tidak perlu kita
ceritakan bukan? Sebab itulah yang di sebut proses.
Hal yang begitu aku idamkan
adalah, melihat kedua orang tuaku melihatku memakai pakaian kebesaran sarjanawan, memakai
toga di hadapan mereka. Kalian tahu, betapa bahagia melihat sumringah mereka
saat anak gadisnya memakai itu. Tentu saja tidak berhenti di sana, alhamdulillah, berkat
proses yang sungguh-sungguh dalam meraih cita-cita itu, aku berhasil memberikan
predikat lulusan terbaik bagi kedua orang tuaku. Dari lebih dari 500
sarjanawan, aku bersama 15 sarjanawan lainnya mendapat predikat lulusan terbaik
yang akan kami persembahkan pada orang-orang kesayangan kami, pada kedua orang
tua kami.
Untuk itu, selama hidupku, benar
bahwa hanya itu yang baru bisa aku persembahkan kepada mereka. Hanya itu dan
baru itu. Kelak, mimpi dan ambisiku yang lain yang sedang dalam proses akan
kuulangi membuat sumringah di wajah mereka. Akan kuulangi kebahagiaan itu, lagi
dan lagi. Bismillahirohmaanirrohim.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar