3 November 2017

SASTRA ANAK: DONGENG



Tiga Kawanan
                                                                                         
            Di suatu hutan, hiduplah sekelompok sahabat, yaitu Semut, Gajah, dan Laba-laba. Mereka hidup berdampingan dan saling menolong. Tiga kawanan ini memiliki kemampuan khusus masing-masing. Semut memiliki akal yang cerdik dan memiliki sifat seperti pemimpin. Gajah, selain memiliki badan yang kuat dan besar, ia juga memiliki sifat bijaksana, selalu memberi nasehat dan perlindungan pada teman-temannya jika terjadi suatu konflik. Sedangkan Laba-laba, memiliki kegigihan dan kerja keras, ia hewan yang paling sabar di antara teman- temannya. Meskipun banyak perbedaan, mereka hidup rukun seperti keluarga.
            Musim penghujan berlalu, sebentar lagi kemarau akan datang. Tiga kawanan ini bermaksud untuk mengumpulkan persediaan makanan. Mereka juga mencari tempat perlindungan yang aman untuk tinggal dimusim kemarau.

“Teman-teman, sebentar lagi musim akan berganti, kita harus mencari persediaan makanan dan tempat perlindungan”. Ucap semut.
“Iya, kita harus bergerak cepat sebelum kemarau datang”. Laba-laba menambahkan.
“Kita harus berbagi tugas teman, agar pekerjaan kita cepat selesai”. Gajah memberi saran.

            Akhirnya, mereka sepakat untuk membagi tugas. Semut bertugas untuk mencari buah-buahan kecil dan makanan, Gajah bertugas untuk mengumpulkan ranting pohon, sedangkan Laba-laba bertugas mencari tempat tinggal untuk musim kemarau. “Kita akan berkumpul disini lagi sebelum petang” Gajah menambahkan. Mereka sepakat dan segera mengerjakan tugas masing-masing. Mereka mengerjakan tugas dengan baik. Namun di tengah perjalanan Gajah dikejutkan dengan suara senapan. Setelah dilihat, ternyata ada seorang pemburu sedang mengintai seekor Kijang. Pemburu itu membawa pedang panjang dan senapan. Gajah merasa takut dan hendak melarikan diri. Namun ketika Gajah berlari, kakinya tersandung akar pohon, sehingga keberadaannya dilihat oleh Pemburu. Pemburu itu menoleh ke arah Gajah sambil menodongkan senapannya “Wah… wah… santapan besar, mau kemana kau Gajah cantik. Gadingmu begitu membuatku terpukau” Pemburu itu menatap Gajah dengan sangar. Gajah sangat ketakutan, kemudian ia menarik ranting pohon yang lumayan besar dan melemparkannya pada Pemburu itu hingga Pemburu terjatuh. Pemburu murka “Gajah nakal, jangan coba kau bermain-main denganku”. Gajah berlari. Pemburu tertatih dan menembakkan senapannya, namun meleset. Gajahpun berhasil meloloskan diri. Pemburu mengumpat “Sembunyilah wahai gajah, badanmu yang besar itu akan selalu terlihat di mataku, tunggu saja. Aku akan datang lagi untukmu”.

            Gajah tergopoh dengan kakinya yang terluka, ia berhasil kabur dari Pemburu jahat dan berhasil kembali ke tempat perjanjian mereka. Gajah menunggu kedua sahabatnya. Hingga petang, kedua sahabatnya datang dengan wajah letih namun ceria.

“Hai Gajah, apa yang kau dapat hari ini? aku menemukan tempat persembunyian aman buat kita nanti, di seberang sungai sana”. Laba-laba sumringah.
“Aku menemukan banyak ladang buah di hutan seberang, besok kita akan memanennya”. Tambah semut.

            Gajah hanya murung. Semut melihat kaki Gajah yang terluka. “Wahai sahabatku, ada apa dengan kakimu?”. “Aku tadi bertemu dengan seorang Pemburu”. Kedua sahabatnya terkejut. “Dia akan kembali lagi besok untuk menangkapku kawan, apa yang harus aku lakukan”. Gajah terisak. Kedua sahabatnya saling menatap. “Kita harus melakukan sesuatu pada Pemburu itu”. Ucap Semut. “Kita harus membuat jebakan”. Laba-laba memberi ide. “Tapi pemburu itu membawa pedang panjang dan senapan”. “Jangan khawatir, jangan pernah meragukan kekuatan kita”. Semut memberi semangat. “Tapi, jangan sampai kita bunuh orang itu, di Desa pasti ada keluarga yang menunggunya” Gajah risau. Kemudian semua mengangguk. Kawanan itu merancang suatu rencana, mereka hanya ingin membuat Pemburu itu merasa jera dan tidak berburu di hutan itu lagi.

            Pagi hari, Gajah merasa kakinya membaik, dia dan kedua sahabatnya sudah siap dengan rencana mereka. Sebelum melakukan rencananya mereka mencari buah-buahan untuk mengisi perut mereka sambil bersenda gurau. Di tengah perjalanan, mereka dikejutkan  oleh suara  senapan. Tiga kawanan itupun siap menjalankan rencana mereka.

“Iya, itu pemburu kemarin”. Bisik Gajah. Laba-laba siap untuk membuat jebakan. Ia membuat sebuah jaring yang besar dan tebal. Tidak butuh waktu yang lama bagi Laba-laba membuat jaring itu. Kemudian Gajah memancing Pemburu itu dengan suaranya. Pemburu terpancing dan berjalan kearah Gajah. Ia tidak tahu bahwa di depannya ada sebuah jaring Laba-laba, hingga akhirnya wajahnya terperangkap jaring-jaring itu, Pemburu terjatuh. Semut memberi kode pada Segerombolan Lebah untuk menyerang Pemburu itu.  Pemburu yang terjatuh itu, disengati Lebah. Dia berteriak minta ampun dan beusaha berdiri kemudian melarikan diri dari hutan itu dengan tergopoh. Wajah dan tubuhnya bengkak disengat Lebah, kakinya luka karena terjatuh.

            Tiga kawanan itu berhasil mengusir Pemburu dari hutan itu, mereka berterima kasih pada Lebah yang sudah membantu penyerangan. “Pemburu itu juga sering mencuri madu-madu kami, kami juga sudah geram dengan ulahnya” Lebah menjelaskan. Akhirnya Tiga kawanan itupun melanjutkan rencana awal mereka untuk mencari tempat tinggal yang aman di musim kemarau, sebelumnya mereka mengumpulkan buah-buahan dan makanan dari tempat yang sudah ditunjuk oleh semut. Mereka mengajak Lebah, namun lebah lebih memilih tempatnya sendiri. Mereka berpisah di pinggir sungai. Tiga kawanan itu menyebrangi sungai menuju goa sedangkan Gerombolan Lebah terbang berdampingan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar