Di suatu hutan, hiduplah sekelompok
sahabat, yaitu Semut, Gajah, dan Laba-laba. Mereka hidup berdampingan dan
saling menolong. Tiga kawanan ini memiliki kemampuan khusus masing-masing.
Semut memiliki akal yang cerdik dan memiliki sifat seperti pemimpin. Gajah,
selain memiliki badan yang kuat dan besar, ia juga memiliki sifat bijaksana,
selalu memberi nasehat dan perlindungan pada teman-temannya jika terjadi suatu
konflik. Sedangkan Laba-laba, memiliki kegigihan dan kerja keras, ia hewan yang
paling sabar di antara teman- temannya. Meskipun banyak perbedaan, mereka hidup
rukun seperti keluarga.
Musim penghujan berlalu, sebentar
lagi kemarau akan datang. Tiga kawanan ini bermaksud untuk mengumpulkan
persediaan makanan. Mereka juga mencari tempat perlindungan yang aman untuk
tinggal dimusim kemarau.
“Teman-teman,
sebentar lagi musim akan berganti, kita harus mencari persediaan makanan dan
tempat perlindungan”. Ucap semut.
“Iya, kita harus
bergerak cepat sebelum kemarau datang”. Laba-laba menambahkan.
“Kita harus
berbagi tugas teman, agar pekerjaan kita cepat selesai”. Gajah memberi saran.
Akhirnya, mereka sepakat untuk
membagi tugas. Semut bertugas untuk mencari buah-buahan kecil dan makanan,
Gajah bertugas untuk mengumpulkan ranting pohon, sedangkan Laba-laba bertugas mencari
tempat tinggal untuk musim kemarau. “Kita akan berkumpul disini lagi sebelum
petang” Gajah menambahkan. Mereka sepakat dan segera mengerjakan tugas
masing-masing. Mereka mengerjakan tugas dengan baik. Namun di tengah perjalanan
Gajah dikejutkan dengan suara senapan. Setelah dilihat, ternyata ada seorang
pemburu sedang mengintai seekor Kijang. Pemburu itu membawa pedang panjang dan
senapan. Gajah merasa takut dan hendak melarikan diri. Namun ketika Gajah
berlari, kakinya tersandung akar pohon, sehingga keberadaannya dilihat oleh
Pemburu. Pemburu itu menoleh ke arah Gajah sambil menodongkan senapannya “Wah…
wah… santapan besar, mau kemana kau Gajah cantik. Gadingmu begitu membuatku
terpukau” Pemburu itu menatap Gajah dengan sangar. Gajah sangat ketakutan,
kemudian ia menarik ranting pohon yang lumayan besar dan melemparkannya pada
Pemburu itu hingga Pemburu terjatuh. Pemburu murka “Gajah nakal, jangan coba
kau bermain-main denganku”. Gajah berlari. Pemburu tertatih dan menembakkan
senapannya, namun meleset. Gajahpun berhasil meloloskan diri. Pemburu mengumpat
“Sembunyilah wahai gajah, badanmu yang besar itu akan selalu terlihat di mataku,
tunggu saja. Aku akan datang lagi untukmu”.
Gajah tergopoh dengan kakinya yang
terluka, ia berhasil kabur dari Pemburu jahat dan berhasil kembali ke tempat
perjanjian mereka. Gajah menunggu kedua sahabatnya. Hingga petang, kedua
sahabatnya datang dengan wajah letih namun ceria.
“Hai Gajah, apa
yang kau dapat hari ini? aku menemukan tempat persembunyian aman buat kita
nanti, di seberang sungai sana”. Laba-laba sumringah.
“Aku menemukan
banyak ladang buah di hutan seberang, besok kita akan memanennya”. Tambah
semut.
Gajah hanya murung. Semut melihat
kaki Gajah yang terluka. “Wahai sahabatku, ada apa dengan kakimu?”. “Aku tadi
bertemu dengan seorang Pemburu”. Kedua sahabatnya terkejut. “Dia akan kembali
lagi besok untuk menangkapku kawan, apa yang harus aku lakukan”. Gajah terisak.
Kedua sahabatnya saling menatap. “Kita harus melakukan sesuatu pada Pemburu
itu”. Ucap Semut. “Kita harus membuat jebakan”. Laba-laba memberi ide. “Tapi
pemburu itu membawa pedang panjang dan senapan”. “Jangan khawatir, jangan
pernah meragukan kekuatan kita”. Semut memberi semangat. “Tapi, jangan sampai
kita bunuh orang itu, di Desa pasti ada keluarga yang menunggunya” Gajah risau.
Kemudian semua mengangguk. Kawanan itu merancang suatu rencana, mereka hanya
ingin membuat Pemburu itu merasa jera dan tidak berburu di hutan itu lagi.
Pagi hari, Gajah merasa kakinya membaik,
dia dan kedua sahabatnya sudah siap dengan rencana mereka. Sebelum melakukan
rencananya mereka mencari buah-buahan untuk mengisi perut mereka sambil
bersenda gurau. Di tengah perjalanan, mereka dikejutkan oleh suara
senapan. Tiga kawanan itupun siap menjalankan rencana mereka.
“Iya, itu
pemburu kemarin”. Bisik Gajah. Laba-laba siap untuk membuat jebakan. Ia membuat
sebuah jaring yang besar dan tebal. Tidak butuh waktu yang lama bagi Laba-laba
membuat jaring itu. Kemudian Gajah memancing Pemburu itu dengan suaranya.
Pemburu terpancing dan berjalan kearah Gajah. Ia tidak tahu bahwa di depannya
ada sebuah jaring Laba-laba, hingga akhirnya wajahnya terperangkap
jaring-jaring itu, Pemburu terjatuh. Semut memberi kode pada Segerombolan Lebah
untuk menyerang Pemburu itu. Pemburu yang
terjatuh itu, disengati Lebah. Dia berteriak minta ampun dan beusaha berdiri
kemudian melarikan diri dari hutan itu dengan tergopoh. Wajah dan tubuhnya
bengkak disengat Lebah, kakinya luka karena terjatuh.
Tiga kawanan itu berhasil mengusir
Pemburu dari hutan itu, mereka berterima kasih pada Lebah yang sudah membantu
penyerangan. “Pemburu itu juga sering mencuri madu-madu kami, kami juga sudah
geram dengan ulahnya” Lebah menjelaskan. Akhirnya Tiga kawanan itupun
melanjutkan rencana awal mereka untuk mencari tempat tinggal yang aman di musim
kemarau, sebelumnya mereka mengumpulkan buah-buahan dan makanan dari tempat
yang sudah ditunjuk oleh semut. Mereka mengajak Lebah, namun lebah lebih
memilih tempatnya sendiri. Mereka berpisah di pinggir sungai. Tiga kawanan itu
menyebrangi sungai menuju goa sedangkan Gerombolan Lebah terbang berdampingan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar