Terima kasih, mungkin aku yang terlalu mudah untuk berharap. Kita masih belum tau akan di bawa ke mana langkah ini. Namun, ternyata hatiku memang terlalu mudah untuk berharap. Satu-satunya yang aku harapkan adalah keluar dari setiap bayangan masa lalu, keluar dari setiap rasa sakit karenanya. Tapi hati tiada yang tau, meski sulit sekali untuk memulai itu, perlahan ada setitik harapan dalam diri, pada langkah yang belum pasti tujuannya.
Ini sebab hadirnya dirimu, yang perlahan mampu membuatku untuk tidak mengingat masa lalu, tidak memikirkan setiap rasa sakit itu, hingga aku benar-benar lupa. Kamu telah berhasil, sebenarnya. Namun, terlalu banyak takut dalam diri yang mudah berharap ini. Jika itu terjadi, aku tidak akan membiarkan diriku terjerembab pada kesalahan yang sama, lagi dan lagi. Tak ingin memulai untuk kecewa lagi, pada orang yang berbeda. Aku tidak pernah mengharapkan adanya kekecewaan lagi. Mungkin benar, jarak adalah sebaik-baik hal yang harus ada di antara kita. Sebab kita masih belum tau mau di bawa ke mana langkah ini. Aku pun belum memutuskan untuk berjalan bersamamu. Aku hanya takut pada hati yang mudah berharap, takut pada kekecewaan.
Aku tidak pernah lupa, diri ini hanya manusia biasa. Bukan jaringan komputer, yang dapat bekerja secara on-off setiap kali ingin. Aku tidak bisa mengendalikan hati untuk berharap, aku tidak bisa mengendalikan setiap rasa kecewa yang akan datang.
Sedikit 'pencegahan' adalah hal yang harus selalu ada pada diri. Aku percaya bahwa Allah Maha Membolak-balikan hati. Aku percaya, tiada yang patut menjadi tempat berharap selain Allah. Namun, aku tidak pernah lupa, bahwa diri ini hanya manusia biasa.
Palembang pagi yang basah, 6 Desember 2017.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar