3 November 2017

Bintang


           
 Ini malam yang menangis. Sentuhan angin terasa sangat menusuk bagi seorang bocah-yang tidak biasa untuk menari di kolong langit saat ini. Namun riak wajahnya tidak menunjukkan betapa ia sangat menggigil. Langkahnya seirama dengan tiap tetes air yang turun. Ia tampak begitu hidup.
            Bahkan bintang-bintang di dinding langitpun enggan untuk bermain. Hanya ada satu Bintang yang terlihat begitu menikmati malam ini. Bocah dengan t-shirt hitam bertuliskan I Love Palembang itu bernyanyi di lorong jalan dengan kaki telanjang. Bajunya yang kuyup menunjukkan betapa kurus tubuh putihnya. Wajahnya-yang tidak biasa membuat orang-orang yang berlindung di bawah teras-teras ruko menodongkan wajah heran. Ada mata sipit yang disipit-sipitkan, ada juga mata-mata sipit yang melotot, menggeleng-gelengkan kepala.
            Dari ujung jalan terlihat seorang wanita tua, berteriak, kemudian berlari. Payung yang dibawanya ikut melambai-lambai mengikuti tarian bocah-yang tidak biasa itu.
            Bintang? Kenapa hujan-hujanan?” Seru wanita berdaster itu.
            Anak yang di panggil Bintang menunjukkan wajah tanpa nada. Tangannya menunjuk ke sumber turunnya air. Wanita itu nampak khawatir, wajahnya gelisah. Di tuntunlah bocah itu berjalan, masuk ke dalam sebuah rumah berdinding abu-abu. Di bawalah ia ke dalam kamar mandi. Dilucuti semua pakaian yang dipakainya. Bocah-yang tidak biasa itu berteriak, menyerukan kepada ibunya bahwa ia sedang bermain. Wajah sang ibu tampak mendung, menjadikan malam ini benar-benar menangis.
            Bintang menundukkan kepala, pasrah terhadap setiap sentuhan dari Ibu. Kini bocah itu sudah tampak merah, aroma minyak telon keluar dari tubuhnya yang di balut sweater rajut berwarna putih bertuliskan I Love Mom. Ia berbaring di tempatnya, Ibunya masih sibuk dengan hujannya sambil menarikkan selimut pada tubuh Bintang. Bintang bangun, menyenderkan tubuhnya pada bantal. Di raihnya wajah sang ibu. Bintang tampak berkaca-kaca. Tangannya yang sudah hangat menempel pada sepasang pipi Ibunya. Dikecuplah kening Ibunya, mata dan wajahnya seolah berkata “maaf bu, sudah membuatmu khawatir”. Disekalah air mata ibunya, lalu memeluk tubuh wanita yang tangisnya semakin menjadi. Bintang menyunggingkan senyum di wajah polosnya, berharap ibunya ikut tersenyum. Wanita itu bergumam “maaf nak, ibu tidak bermaksud mengganggumu, ibu hanya takut kehilanganmu”. Bintang menggelengkan kepalanya, lalu berlagak menjewer kedua telinganya sambil tersenyum. “Lain kali, bilang sama ibu kemana kau akan pergi. Ok?”. Bintang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ah, malam ini penuh dengan air. Disela-sela harunya kamar Bintang, terdengar suara perut dari balik sweater rajut berwarna putih. Bintang melotot, ibunya terkekeh- lalu Bintang juga. Tanpa aba-aba lagi ibunya beranjak dari kamar itu.
            Tidak lama kemudian, ia kembali membawa dua mangkuk Indomie Soto dilengkapi dengan telur dan sayur. Ada dua gelas coklat hangat juga di atas nampan itu. Bintang dengan sigap melompat dari atas kasur, merengek pada ibunya untuk berjalan lebih cepat. “Bu, cepatlah aku lapar” wajahnya bertingkah. Merekapun menikmati malam ini dengan sempurna.
            Bintang mengelus-elus perutnya yang sudah mengembung. “Eeeekh”. Bocah itu bersendawa, lalu terkekeh, diusul dengan ibunya. Bocah 10 tahun itu bangkit dari posisinya, mengangkat sisa makan malam mereka dan membawanya ke dapur. Tubuhnya berbicara “Ibu, mari kita ke kamar. Ibu harus istirahat”. Wanita itu menggelengkan kepala. “Ibu tidak boleh membantah” . Bintang meraih tangan ibunya, menuntunnya masuk ke dalam ruang istirahat bercat merah muda. Ada sebuah foto keluarga berdiri di atas meja, Ayah, Ibu dan Bintang di usia 3 bulan. Foto itu dibalut dengan frame hitam dan ukiran mawar di setiap sudut. Bintang meliriknya lalu memalingkan wajahnya dari sana. Ia menatap ibunya, membaringkan tubuh dan menyelimuti tubuh ibunya. “Selamat malam bu, I Love You”. Bintang mengecup kening ibunya. Ibunya tersenyum. Bocah- yang tidak biasa itu berdiri. Sekali lagi ia melihat frame berukir mawar. Sekali lagi ia melihat ibunya yang sudah pura-pura tidur. Lalu keluar menuju kamarnya.
               Di malam yang sama, pada atap yang sama, pada ruangan yang sama yang hanya di pisahkan oleh dinding. Kedua anak beranak itu memikirkan hal yang sama. Pada peristiwa 7 tahun silam, ketika orang tua Bintang menyadari anaknya mulai tumbuh dengan perbedaan. Ayahnya murka, lalu pergi begitu saja meninggalkan kedua beranak itu, menyisahkan luka yang sangat mendalam bagi Ibunya. Bintang yang mulai tumbuh sama halnya dengan anak lainnya, yang memiliki banyak tanya dalam diri. Hingga dia tahu kebenaran itu. Kini keduanya masih sangat mengingat dengan kuat kejadian itu. Di malam yang menangis, mereka menangis bersama di ruang yang di pisah oleh dinding.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar