Ini malam yang menangis. Sentuhan angin terasa sangat menusuk bagi seorang bocah-yang tidak biasa untuk menari di kolong langit saat ini. Namun riak wajahnya tidak menunjukkan betapa ia sangat menggigil. Langkahnya seirama dengan tiap tetes air yang turun. Ia tampak begitu hidup.
Bahkan bintang-bintang di dinding langitpun enggan untuk bermain. Hanya ada
satu Bintang yang terlihat begitu menikmati malam ini. Bocah dengan t-shirt hitam bertuliskan I Love Palembang itu bernyanyi di lorong jalan dengan
kaki telanjang. Bajunya yang kuyup menunjukkan betapa kurus tubuh putihnya.
Wajahnya-yang tidak biasa membuat orang-orang yang berlindung di bawah
teras-teras ruko menodongkan wajah heran. Ada mata sipit yang disipit-sipitkan,
ada juga mata-mata sipit yang melotot, menggeleng-gelengkan kepala.
Dari ujung jalan terlihat seorang wanita tua, berteriak, kemudian berlari.
Payung yang dibawanya ikut melambai-lambai mengikuti tarian bocah-yang tidak
biasa itu.
“Bintang? Kenapa
hujan-hujanan?” Seru wanita berdaster itu.
Anak yang di panggil Bintang menunjukkan wajah tanpa nada. Tangannya menunjuk
ke sumber turunnya air. Wanita itu nampak khawatir, wajahnya gelisah. Di
tuntunlah bocah itu berjalan, masuk ke dalam sebuah rumah berdinding abu-abu.
Di bawalah ia ke dalam kamar mandi. Dilucuti semua pakaian yang dipakainya.
Bocah-yang tidak biasa itu berteriak, menyerukan kepada ibunya bahwa ia sedang
bermain. Wajah sang ibu tampak mendung, menjadikan malam ini benar-benar
menangis.
Bintang menundukkan kepala, pasrah terhadap setiap sentuhan dari Ibu. Kini
bocah itu sudah tampak merah, aroma minyak telon keluar dari tubuhnya yang di
balut sweater rajut berwarna putih bertuliskan I Love Mom. Ia berbaring di
tempatnya, Ibunya masih sibuk dengan hujannya sambil menarikkan selimut pada
tubuh Bintang. Bintang bangun, menyenderkan tubuhnya pada bantal. Di raihnya
wajah sang ibu. Bintang tampak berkaca-kaca. Tangannya yang sudah hangat
menempel pada sepasang pipi Ibunya. Dikecuplah kening Ibunya, mata dan wajahnya
seolah berkata “maaf bu, sudah
membuatmu khawatir”. Disekalah air mata ibunya, lalu memeluk tubuh wanita
yang tangisnya semakin menjadi. Bintang menyunggingkan senyum di wajah
polosnya, berharap ibunya ikut tersenyum. Wanita itu bergumam “maaf nak, ibu tidak bermaksud
mengganggumu, ibu hanya takut kehilanganmu”. Bintang menggelengkan
kepalanya, lalu berlagak menjewer kedua telinganya sambil tersenyum. “Lain kali, bilang sama ibu kemana
kau akan pergi. Ok?”. Bintang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ah, malam ini penuh dengan air.
Disela-sela harunya kamar Bintang, terdengar suara perut dari balik sweater rajut berwarna putih. Bintang melotot,
ibunya terkekeh- lalu Bintang juga. Tanpa aba-aba lagi ibunya beranjak dari
kamar itu.
Tidak lama kemudian, ia kembali membawa dua mangkuk Indomie Soto dilengkapi dengan telur dan sayur. Ada
dua gelas coklat hangat juga di atas nampan itu. Bintang dengan sigap melompat
dari atas kasur, merengek pada ibunya untuk berjalan lebih cepat. “Bu, cepatlah aku lapar” wajahnya bertingkah. Merekapun
menikmati malam ini dengan sempurna.
Bintang mengelus-elus perutnya yang sudah mengembung. “Eeeekh”. Bocah itu bersendawa,
lalu terkekeh, diusul dengan ibunya. Bocah 10 tahun itu bangkit dari posisinya,
mengangkat sisa makan malam mereka dan membawanya ke dapur. Tubuhnya berbicara “Ibu, mari kita ke kamar. Ibu harus
istirahat”. Wanita itu menggelengkan kepala. “Ibu tidak boleh membantah” . Bintang meraih tangan ibunya,
menuntunnya masuk ke dalam ruang istirahat bercat merah muda. Ada sebuah foto
keluarga berdiri di atas meja, Ayah, Ibu dan Bintang di usia 3 bulan. Foto itu
dibalut dengan frame hitam dan ukiran mawar di setiap
sudut. Bintang meliriknya lalu memalingkan wajahnya dari sana. Ia menatap
ibunya, membaringkan tubuh dan menyelimuti tubuh ibunya. “Selamat malam bu, I Love You”. Bintang mengecup kening ibunya. Ibunya
tersenyum. Bocah- yang tidak biasa itu berdiri. Sekali lagi ia melihat frame berukir mawar. Sekali lagi ia melihat
ibunya yang sudah pura-pura tidur. Lalu keluar menuju kamarnya.
Di malam yang sama, pada atap yang sama, pada
ruangan yang sama yang hanya di pisahkan oleh dinding. Kedua anak beranak itu
memikirkan hal yang sama. Pada peristiwa 7 tahun silam, ketika orang tua Bintang
menyadari anaknya mulai tumbuh dengan perbedaan. Ayahnya murka, lalu pergi
begitu saja meninggalkan kedua beranak itu, menyisahkan luka yang sangat
mendalam bagi Ibunya. Bintang yang mulai tumbuh sama halnya dengan anak
lainnya, yang memiliki banyak tanya dalam diri. Hingga dia tahu kebenaran itu.
Kini keduanya masih sangat mengingat dengan kuat kejadian itu. Di malam yang
menangis, mereka menangis bersama di ruang yang di pisah oleh dinding.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar