3 November 2017

Emak



Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan” suara Zainudin MZ dalam tausiyahnya di saluran radio lokal, terdengar sayup-sayup dari kamar Emak. Pada matahari yang terlalu condong ke barat, di gelapnya kamar bercahayakan sebuah lampu minyak, Emak terduduk khidmat mendengarkan cicitan radio yang berusaha bertahan dengan sisa-sisa tenaganya. Sesekali wanita paruh baya itu terlihat menganguk-anggukkan kepala, sesekali ikut terkekeh mendengar lelucon islami yang di sampaikan Ulama kondang itu.

          “Allahu akbar… Allahu akbar…..”

          “Lah, sudah adzan. Alhamdulillah”.

          Emak beranjak dari posisi nyamannya. Terseok dengan langkah kecil menuju kamar mandi berdinding bilik bambu. Di sana ada sebuah ember ukuran 5 liter dengan lubang kecil bersumbat kayu. Emak menarik sumbatan kayu itu. Nampak air segar mengalir dari lubang. Emak berdoa, membasuh wajahnya yang dipenuhi garis-garis usia.

          Tiga rakaat ia tunaikan. Tampak khusyuk dengan balutan mukena yang putihnya dimakan hari. Di akhir salam, Emak tak lupa mengadahkan kedua tangan, memohon doa kepada Sang Pencipta.

          “Tok… tok… tok… Assalamualaikum”

          “Mak, Emak… Assalamualaikum” terdengar suara bocah dari luar rumah.
“Waalaikumussalam, ya. Tunggulah sebentar” Suara serak Emak terdengar bersemangat. Emak berjalan menuju pintu, dan membukanya.
          “Masuklah, masuk” Sambut wanita itu. Emak terlihat celingukan.

          “Mak, Si Duwi ndak bisa datang. Kata ibunya, Duwi lagi sakit” Ucap bocah delapan tahun dengan wajah polosnya.

          “Ooo, yasudah. Kita berdua saja hari ini ya? Kita langsung mulai saja”

          “Iya Mak”


          Si anak mulai membaca Al- Fatihah disusul dengan doa pembuka sebelum mengaji. Emak membuka Iqro, membuka lembaran yang akan di baca oleh Rahman. “Man, kamu lanjutkan bacaan kemarin” Emak menunjukkan lembaran yang di maksud. Bocah itu langsung menuruti perintah Emak. Rahman nampak lancar membaca huruf demi huruf, sesekali ada sedikit huruf yang keliru, Emak menuntunnya dengan cermat.

          “Shodaqollahul adziim” Rahman mengakhiri bacaannya. “Alhamdulillah, besok iqro ini kamu kasihkan sama Si Duwi, kamu tidak usah pakai iqro ini lagi. Karena kamu sudah naik kelas” Emak berdiri dari tempat duduknya, menyalakan sebuah senter yang sedari tadi setia di samping Emak. Mengarahkannya ke gerobok reot di samping jendela rumah. Tangannya meraba ke dalam gerobok, mengambil sebuah kitab yang nampak lusuh.

          “Man, ini hadiah dari Emak karena kamu berhasil tamat duluan dari Si Duwi” Emakmenyerahkan Al-qur’an tua kepada Rahman.

          “Wah, Mak, terimakasih banyak Mak” Rahman nampak girang sambil menciumi telapak tangan Emak. “Tapi Mak, nanti Emak ndak ada bacaan kalo ini buat Rahman”

          “Kamu tenang saja, Emak masih ada satu dikamar. Pokoknya kamu yang rajin belajar, rajin mengaji, itu akan sangat berguna untuk kamu. Kamu juga harus ingat, Al-qur’an ini warisan dari Emak, harus kamu jaga, harus kamu rawat. Meskipun sudah tua, Al-qur’an ini tidak akan pernah berubah kandungannya, sama kayakEmak. Meskipun Emak sudah tua, Emak tidak akan pernah berubah, Emak akan selalu nungguin kamu sama Duwi tiap abis maghrib di gubuk ini” ucap Emak, setengah terkekeh. Rahman menganguk-angguk sambil menggaruk-garuk (bingung).

          “Terimakasih banyak ya mak, besok Rahman ajakin Duwi kalo dia sudah waras”

          “Ya… ya… sekarang kamu pulanglah, sudah malam”

          “Iya mak, assalamualaikum”

          “Waalaikumussalam”

          Emak mengantar Rahman sampai depan pintu. Ia mengawasi punggung rahman. Lalu masuk ke dalam rumah setelah Rahman benar-benar ditelan pintu rumahnya. Sumringah di wajah senja mulai gugur. Kembali ia dengan teman setianya, bersendagurau dengan radio kesayangannya. Kali ini saluran lokal mengudarakan lagu-lagu pujian dan solawat. Khidmat. Wajah lusuh itu berkomat kamit mengikuti nada.

          Besok adalah hari jumat. Wanita separuh abad itu teringat pengajian di musola. Bergegas ia berdiri, tertatih langkahnya, bergetar tangannya membuka gerobok baju. Pintu gerobok berdecit membuat wanita itu bergumam “Wahai gerobok, tubuhmu renta sama halnya denganku. Kita melangkah saja sendi-sendi terasa menjerit” Ia terkekeh. Diambilnya dari dalam perut gerobok sebuah mukena-yang lebih putih dari mukena yang biasa digunakannya dirumah. Mengelus-elusny dan memasukkannya ke dalam tas plastik. Duduklah ia di atas tempat tidurnya, mengangkat bantal dan mengambil sebuah dompet bertuliskan “Emas Asli 24 Karat”. Diambilnya uang pecahan limaribuan dan memasukannya ke dalam tas berisi mukena.

          Empat rakaat dilaksanakannya. Seperti biasa, di akhir salamnya ia selalu menyampaikan solawat dan doa, meminta ketenangan dan ketentraman jiwa. Malam berlanjut, malam ini Emak tidak melepas mukenanya Ia merasa sangat lelah untuk menggantungkan mukenanya. Ia berbaring dengan sunyi. Radio kesayangannya terlebih dulu terlelap dalam nostalgia malam. Hanya nyanyian jangkrik yang meninabobokkan wanita renta itu. Wajahnya yang lusuh berbalut mukena lusuh, pulas dengan tidurnya malam ini. Hingga mentari mulai tinggi, ia tetap tertidur pulas dengan mukena dan wajah yang lusuh- tampak tenang, tanpa beban.



Palembang, 2 Desember 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar