11 November 2017

Kata Siapa Menjadi Pendidik itu Sulit?

          Kata siapa menjadi pendidik itu sulit? Berdiri di depan kelas, memeriksa kehadiran siswa, memberi materi (baca: catatan), memberi tugas (baca: kerjakan LKS), menilai. Itu saja bukan? Melulu itu saja, ya toh?
          Ya, tugas seorang pendidik memang tidak jauh dari hal-hal di atas. Tambah lagi, di lapangan, bahkan saya sendiri pernah mengalaminya. Saya juga pernah duduk di antara barisan peserta didik, menerima materi dan tugas dari mereka yang ada di depan saya. Bukan hal aneh jika hari-hari kita di penuhi dengan catatan (CBSA: Catat Buku Sampai Abis) dan LKS kita penuh dengan coretan. Duh, di sini saya baru menyadari pentingnya metode ceramah (jika tidak monoton ya). Sebab masa menjadi peserta didik, ‘tanpa perhatian’ baru akan di rasakan beberapa tahun kemudian. Nihil pengetahuan, sebab ‘belajar bersama buku’ tidaklah berarti tanpa guru.
          Tentu, tidak semua guru ‘cuek’ terhadap peserta didik. Buktinya saja, dari ragam pendidik yang saya temui, sejak SD, SMP, SMA, bahkan di perguruan tinggi mereka berhasil membuat saya berdiri di depan barisan peserta didik. Terima kasih banyak atas jasa mereka, jasa guru-guru, pun dosen-dosen saya. Termasuk mereka yang sedikit ‘cuek’, terima kasih. Jasa mereka tidaklah terbayarkan, sungguh.
***
          Hm, mari kembali pada pertanyaan pertama pada kalimat awal tulisan ini. Kata siapa menjadi peserta didik itu sulit? Jelas jawaban saya adalah “kata saya”. Sedikit bingung ya? Di awal saya mengatakan bahwa tugas pendidik sekedar memeriksa kehadiran siswa, memberi materi, tugas, dan memberi nilai. Itu-itu saja. Tapi tidak, ternyata tidak sesederhana itu. Untuk lebih jelasnya, mari kita coba mengartikan kata ‘pendidikan’ dulu ya. Pendidikan berasal dari kata didik yang mendapatkan awalan me- lantas menjadi mendidik yang berarti memelihara dan memberi latihan. Dalam melakukan dua kegiatan tersebut (memelihara dan memberi latihan) diperlukan adanya sebuah pengajaran, tuntunan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sehingga didapati pengertian dari kata pendidikan itu. Pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui usaha pengajaran dan pelatihan (Islamuddin, 2010, p.3).
          Mengetahui arti dari pendidikan itu saja membuat tanggung jawab diri ini bertambah, proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui usaha pengajaran dan pelatihan  bukankah itu tidak sesederhana seperti apa yang telah saya jabarkan di muka? Memberikan pengajaran dan pelatihan bagi orang lain, apalagi kepada peserta didik yang jumlahnya lebih dari satu, dengan ragam karakteristik peserta didik, dengan ragam intelegensi peserta didik, dengan ragam latar belakang peserta didik. Tidak sesederhana itu.
          Di sini, mungkin saya membutuhkan beberapa bacaan yang dapat membantu saya menguasai kelas dengan baik. Tapi bukan berkenaan dengan materi pembelajaran, melainkan teori tentang penguasaan peserta didik. Sebab, menguasai peserta didik adalah PR bagi saya, bagi guru pemula. Mengapa menjadi PR? Mungkin selama ini saya terbiasa mengajar di kelas yang memiliki kualitas B hingga A, yang membuat proses pembelajaran saya menjadi mudah. Kemudian, kini saya berdiri di depan kelas yang memiliki kualitas cukup, membuat banyak PR untuk saya sendiri. Saya benar-benar bertanya, usia berapa anak memiliki daya nalar? Sebab saya menemukan banyak di antara mereka yang dengan sulitnya menjawab pertanyaan, meski pertanyaan itu di mulai dengan kata ‘apa’ belum sampai ke ‘bagaimana’. Banyak sekali yang harus saya pelajari di sini. Banyak sekali yang harus saya koreksi pada diri ini.
          Menurut buku yang saya baca, perkembangan anak mempengaruhi kemampuan belajarnya. Ya itu sudah jelas dan pasti. Di sini ada sebuah dilema yang saya rasakan. Dalam proses pembelajaran, sekolah memiliki standar kompetensi yang sudah di atur pemerintah. Untuk memenuhi standar-standar itu, saya berhadapan dengan anak-anak yang terlalu santai dan begitu kurang perhatian. Membiasakan mereka untuk disiplin saja sangat sulit. Membiasakan mereka untuk mau belajar saja sulit. Saya tidak tahu siapa yang harus bertanggung jawab atas itu semua, orang tua, lingkungan, diri mereka sendiri, sekolah, ataupun guru? Yang jelas, saat ini saya memiliki tanggung jawab untuk memberikan kelayakan bagi pendidikan mereka. Meski sulit, namun saya akan terus belajar. Saya berharap diri ini mampu menjalankan kewajiban, sesulit apapun jalan di depannya, saya akan terus berusaha. Semangat!


Referensi: Islamuddin, H. (2012). Psikologi pendidikan. Jember: Pustaka Belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar