Kata siapa
menjadi pendidik itu sulit? Berdiri di depan kelas, memeriksa kehadiran siswa,
memberi materi (baca: catatan), memberi tugas (baca: kerjakan LKS), menilai.
Itu saja bukan? Melulu itu saja, ya toh?
Ya,
tugas seorang pendidik memang tidak jauh dari hal-hal di atas. Tambah lagi, di
lapangan, bahkan saya sendiri pernah mengalaminya. Saya juga pernah duduk di
antara barisan peserta didik, menerima materi dan tugas dari mereka yang ada di
depan saya. Bukan hal aneh jika hari-hari kita di penuhi dengan catatan (CBSA:
Catat Buku Sampai Abis) dan LKS kita penuh dengan coretan. Duh, di sini saya
baru menyadari pentingnya metode ceramah (jika tidak monoton ya). Sebab masa
menjadi peserta didik, ‘tanpa perhatian’ baru akan di rasakan beberapa tahun
kemudian. Nihil pengetahuan, sebab ‘belajar bersama buku’ tidaklah berarti
tanpa guru.
Tentu,
tidak semua guru ‘cuek’ terhadap peserta didik. Buktinya saja, dari ragam
pendidik yang saya temui, sejak SD, SMP, SMA, bahkan di perguruan tinggi mereka
berhasil membuat saya berdiri di depan barisan peserta didik. Terima kasih
banyak atas jasa mereka, jasa guru-guru, pun dosen-dosen saya. Termasuk mereka
yang sedikit ‘cuek’, terima kasih. Jasa mereka tidaklah terbayarkan, sungguh.
***
Hm, mari
kembali pada pertanyaan pertama pada kalimat awal tulisan ini. Kata siapa
menjadi peserta didik itu sulit? Jelas jawaban saya adalah “kata saya”. Sedikit
bingung ya? Di awal saya mengatakan bahwa tugas pendidik sekedar memeriksa
kehadiran siswa, memberi materi, tugas, dan memberi nilai. Itu-itu saja. Tapi
tidak, ternyata tidak sesederhana itu. Untuk lebih jelasnya, mari kita coba
mengartikan kata ‘pendidikan’ dulu ya. Pendidikan berasal dari kata didik yang
mendapatkan awalan me- lantas menjadi
mendidik yang berarti memelihara dan
memberi latihan. Dalam melakukan dua kegiatan tersebut (memelihara dan memberi
latihan) diperlukan adanya sebuah pengajaran, tuntunan dan pimpinan mengenai
akhlak dan kecerdasan pikiran. Sehingga didapati pengertian dari kata pendidikan
itu. Pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau
kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui usaha pengajaran dan
pelatihan (Islamuddin, 2010, p.3).
Mengetahui
arti dari pendidikan itu saja membuat tanggung jawab diri ini bertambah, proses perubahan sikap dan tingkah laku
seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui usaha
pengajaran dan pelatihan bukankah
itu tidak sesederhana seperti apa yang telah saya jabarkan di muka? Memberikan pengajaran
dan pelatihan bagi orang lain, apalagi kepada peserta didik yang jumlahnya
lebih dari satu, dengan ragam karakteristik peserta didik, dengan ragam intelegensi
peserta didik, dengan ragam latar belakang peserta didik. Tidak sesederhana
itu.
Di
sini, mungkin saya membutuhkan beberapa bacaan yang dapat membantu saya
menguasai kelas dengan baik. Tapi bukan berkenaan dengan materi pembelajaran,
melainkan teori tentang penguasaan peserta didik. Sebab, menguasai peserta
didik adalah PR bagi saya, bagi guru pemula. Mengapa menjadi PR? Mungkin selama
ini saya terbiasa mengajar di kelas yang memiliki kualitas B hingga A, yang membuat
proses pembelajaran saya menjadi mudah. Kemudian, kini saya berdiri di depan
kelas yang memiliki kualitas cukup, membuat banyak PR untuk saya sendiri. Saya
benar-benar bertanya, usia berapa anak memiliki daya nalar? Sebab saya
menemukan banyak di antara mereka yang dengan sulitnya menjawab pertanyaan,
meski pertanyaan itu di mulai dengan kata ‘apa’ belum sampai ke ‘bagaimana’. Banyak
sekali yang harus saya pelajari di sini. Banyak sekali yang harus saya koreksi
pada diri ini.
Menurut
buku yang saya baca, perkembangan anak mempengaruhi kemampuan belajarnya. Ya itu
sudah jelas dan pasti. Di sini ada sebuah dilema yang saya rasakan. Dalam proses
pembelajaran, sekolah memiliki standar kompetensi yang sudah di atur
pemerintah. Untuk memenuhi standar-standar itu, saya berhadapan dengan
anak-anak yang terlalu santai dan begitu kurang perhatian. Membiasakan mereka
untuk disiplin saja sangat sulit. Membiasakan mereka untuk mau belajar saja
sulit. Saya tidak tahu siapa yang harus bertanggung jawab atas itu semua, orang
tua, lingkungan, diri mereka sendiri, sekolah, ataupun guru? Yang jelas, saat
ini saya memiliki tanggung jawab untuk memberikan kelayakan bagi pendidikan
mereka. Meski sulit, namun saya akan terus belajar. Saya berharap diri ini mampu
menjalankan kewajiban, sesulit apapun jalan di depannya, saya akan terus
berusaha. Semangat!
Referensi: Islamuddin,
H. (2012). Psikologi pendidikan.
Jember: Pustaka Belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar