29 Agustus 2018

Sekolah, Rumah, dan Jalanan: Generasi Penerus Bangsa




Hai…
Ini masih pagi, saat aku menulis ini waktu di laptopku menunjukkan angka 07.30 WIB. Masih begitu pagi untuk sadar dan bangun dari tidur. Tapi tidak juga seperti itu sih, sedari subuh aku dah bangun, mengerjakan hal yang seharusnya dan melanjutkan ‘lemburan’ semalam. Sejak lulus SMA pekerjaanku tidak jauh dari laptop, selalu berhadapan dengan laptop dan orang-orang banyak. Mau tau selengkapnya tentang aku? Cek di bio ya, ato hubungi nomor ini +62 853xxxxxxxx . Hehehe, ga ding. Poinnya bukan itu, pagi ini aku mau coba menanggapi balasan salah satu follower instagram aku mengenai pertanyaanku “Kalian ingin aku menulis tentang apa, sih?” yang aku post di snapgram kemarin. Oya, akun ig aku @drainaaa sama seperti nama blog ini. Xoxoxo…

Sudah ya, langsung ke intinya saja. Cekidot!

Anak-Anak, Generasi Penerus Bangsa

Apa yang pertama muncul di benakmu ketika mendengar kata ‘anak-anak, generasi penerus bangsa?’ Hal utama yang muncul di benakku ketika mendengar kata itu adalah sekolah, rumah, dan jalanan. Dalam coretan kali ini, aku akan coba jabarkan ketiga poin tersebut, hm semoga tidak mengecewakan.

The first point is sekolah. Mengapa sekolah? Bukan karena basic aku sebagai pendidik ya, sedari dulu aku begitu punya ketertarikan atas pendidikan, bahkan jika kalian sudah pernah baca postingan aku ini https://bintangraina10.blogspot.com/2017/12/terima-kasih-diriku-di-bangku-3-sd.html kalian akan tahu bahwa ketertarikanku terhadap pendidikan bermula sejak aku 3 SD. Aku juga pernah membuat tugas essai tentang pendidikan dan dekadensi moral ketika SMA- sayangnya aku tidak punya arsip itu, sedih.

Lanjut ya, mengapa sekolah? Sebab menurutku sekolah merupakan salah satu tempat para generasi penerus bangsa berada. Sekolah itu tujuan, sekolah itu rumah, sekolah itu tempat pulang. Sekolah menjadi tempat belajar, bermain, dan bersosial yang paling dekat dengan masyarakat, baik itu sekolah formal maupun informal. Tapi yang aku maksud kali ini adalah sekolah formal mulai dari TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi dan pendidikan yang setara dengan itu semua.

Bicara tentang sekolah, maka kita akan membayangkan anak-anak, siswa, dan guru. Sekolah merupakan tempat berlangsungnya pendidikan. Apa itu pendidikan? Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dari definisi itu kita sadar dan setuju pada kalimatku di atas bahwa sekolah merupakan salah satu tempat para generasi penerus bangsa berada. Jadi, generasi penerus bangsa harus belajar, belajar agama, belajar sopan santun, belajar moral, belajar mengembangkan potensi dan bakat mereka di sekolah. Masalah proses belajarnya, fasilitas sekolahnya, dan serba-serbi yang ada di sekolah, itu berkaitan dengan teknis. Kali ini kita tidak membahas lebih dalam tentang hal tersebut.

The second point is rumah. Mengapa rumah berkaitan dengan generasi penerus bangsa? Bukankah pada poin pertama sudah di sebutkan bahwa sekolah adalah rumah? Mengapa di bahas lagi di poin ini? Well, sekolah sebagai rumah maksudnya adalah nilai-nilai kekeluargaan, persaudaraan, sopan santun, harga-menghargai, bisa kita temukan di sekolah. Nilai-nilai tersebut di ajarkan dan di terapkan di sekolah. Tapi rumah adalah tempat yang lebih hangat agar nilai-nilai tersebut muncul ke permukaan, termasuk nilai-nilai religius. Tidak cukup bagi seorang anak hanya belajar di sekolah.

Bukankah sering kita mendapati anak-anak kita dengan Pekerjaan Rumah (PR) dari sekolah? Apakah semua anak esoknya mengumpulkan PR itu? Bagi orang yang berhadapan langsung dengan anak-anak sepertiku maka, jawabannya tidak. Tidak semua anak mengerjakan PR mereka- bahkan dahulu kitapun seperti itu, tidak membuat PR. Baik dulu maupun sekarang, alasan klasik yang selalu di gunakan adalah lupa, ketinggalan, tidak sempat, bukunya hilang, atau bahkan membantu ibu di rumah?

Anak dalam masa sekolah tidak salah menolong ibunya di rumah, membantu mengerjakan tugas harian rumah. Tapi seharusnya itu adil bagi anak-anak ketika ada orang tua yang tidak mau menolong anaknya atas tugas sekolah mereka. Apa itu dapat di katakan adil? Maka aku jawab tidak.

Benar, tidak semua orang tua acuh terhadap anaknya, tidak semua orang tua merasa anaknya cukup belajar di sekolah (yang jelas-jelas pikiran seperti itu sangat salah, merasa anaknya cukup belajar di sekolah). Masih banyak orang tua yang memberi perhatian bagi anak-anak mereka, bertanya dan berkonsultasi dengan guru, terlebih melakukan pendekatan pribadi terhadap anak mereka. Orang tua yang selalu punya pertanyaan “bagaimana anakku tadi di sekolah?” merupakan orang tua yang baik menurutku. Dengan adanya perhatian dan pertolongan orang tua kepada anaknya di rumah, akan sangat membantu terwujudnya harapan-harapan yang ada pada poin pertama.

The third point is jalanan. What’s wrong with jalanan? Hm, jalanan adalah tempat ketika generasi penerus bangsa tadi tidak berada di sekolah maupun di rumah. Kebanyakan dari anak-anak berusia sekolah sampai anak-anak berusia produktif kerja yang tidak mengenyam pendidikan di sekolah dan tidak mendapat perhatian cukup di rumah akan bersarang di jalanan. Berjualan koran, ngamen, sampai meminta-minta. Melihat ini, beragam faktor penyebabnya bermunculan. Ku rasa kalian sudah paham itu, aku tidak membahas detailnya kali ini. Hanya miris tiap-tiap melihat penampakan tersebut. Bahkan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka, miris, begitu ironi.

Dari ketiga poin di atas, apakah ada yang bingung dengan maksudnya? Jika ada, mohon koreksi, hahahah.
Poinnya adalah, hei nak, anak-anak, anak muda, pemuda, orang tua, dan kita semua, sekolahlah! Sekolahkan anak kita, sekolahkan diri kita. Belajarlah! tidak ada batasan usia untuk belajar. Positiflah, sebab apa yang kita pikirkan, itulah yang akan terjadi atas usaha-usaha positif kita. Jika sudah demikian maka potensi, bakat, kemampuan kita dan anak-anak kita untuk kemajuan bangsa ini, menjadi generasi penerus bangsa akan mudah terwujud. Insya Allah.

Ada beberapa usaha yang dapat kita lakukan sebagai generasi penerus bangsa, kita dedikasikan untuk bangsa ini setelah hal-hal dasar mengenai belajar tadi kita lakukan yaitu:
1. Awali semua dengan belajar agama. Nilai-nilai moral generasi bangsa bergantung bagaimana pendidikan agamanya.
2. Belajar bahasa. Mendalami dan mencintai bahasa Indonesia itu utama, melestarikan bahasa daerah itu harus, dan mempelajari bahasa asing itu perlu.
3. Berkaryalah. Hentikan bicaramu kalau melangkah saja tidak mampu. Intinnya kerja nyata.


Demikian saja yang dapat saya sampaikan kali ini. Moon maap banyak salah.

24 Juni 2018

Berhentilah!



Sebab hidup adalah pilihan maka pilihlah yang terbaik untuk hidupmu.
Sebab hidup adalah pencarian maka carilah apa yang terbaik untuk hidupmu.
Jangan lupa sertakan Dia dalam tiap pilihan dan pencarianmu.

Maka ketika engkau telah memutuskan untuk memilih, berhentilah untuk mencari. Kita manusia, tak akan puas dengan apa yang ada di atas kita. Kita manusia tak akan pernah merasa cukup dengan apa yang kita miliki. Berhentilah mencari dan buatlah adil pada pilihanmu.

Bukankah begitu lucu ketika diri meminta untuk mendapat yang terbaik dari yang terbaik yang ada di kehidupan ini sedang diri tidak berusaha memperbaiki apa yang ada dalam diri kita. Itu tidak adil. Maka ketika engkau telah memutuskan untuk memilih, berhentilah untuk mencari.

Aku rasa usia kita kini telah memberi beberapa jawaban supaya kita berhenti untuk bermain-main. Maka pintalah padaNya, kelak pilihanmu tidak akan membuat jeda antara engkau dan Rabbmu. Pintalah padaNya supaya pilihanmu adalah dia yang kini, pun kelak akan terus belajar bersamamu, belajar untuk kebaikan bagi dunia fana dan akhirat kekal.

Jangan terkotak-kotak dalam balutan cinta yang sebenarnya hanyalah napsu. Sebab usia kita kini telah memberi beberapa jawaban supaya kita berhenti untuk bermain-main.


@drainaaa

13 Mei 2018

Kepada Pembuat Rindu

Kepadamu, duhai pembuat rindu
Entah berapa banyak kata telah kusampaikan padamu
Bermakna sama, masih tentangmu.

Ini tak akan ada habisnya
Sebab bahkan jeda masih sama:
Kita dan ribuan mil spasi,
aku dan dirimu,
Langit dan lautan yang membiru
Dinding udara yang menyerbu,
Dingin.

Dalam jarak itu
Pun dalam dingin itu.
Aku berdiri pada tiap-tiap ketidakpastian
yang selalu aku yakini bahwa
engkau adalah kau, yang terlalu indah
untuk sekedar kurindu.
Sungguh aku hanya berdosa saat mengingatmu.
Maka pada tiap-tiap ketidakpastian yang selalu aku yakini,
Aku memberanikan diri, menyebutmu
dalam genggaman doaku.
Kelak sebab yakinku, engkau kan datang pada pangkuku,
duhai pembuat rindu.

28 April 2018

Bahkan Terlalu Berharga

Aku tidak tahu mengapa diri
mudah larut dalam haru

Ini tentang kegemaranku
Ya, aku gemar sekali
Mengungkapkan perasaan
Lewat sebuah coretan

Aku pernah bertemu dengan beberapa orang
Memiliki rasa yang spesial pada mereka
Pernah menangis sekaligus tertawa
Bersama mereka.
Aku pernah.

Banyak yang sudah aku temui
Banyak yang aku pelajari
Tidak mengapa jika kamu berpikir
Aku bukan orang yang baik,
Karena memang begitulah adanya.

Kini, aku bertemu denganmu
dalam keadaan terburukku
Sungguh, apa yang kamu pikir tentangku saat ini
Aku terima,
Sebab sadar diri bukan makhluk
yang sempurna.

Ah, aku terlalu banyak bicara.
Sebenarnya aku hanya ingin menyampaikan
Betapa diri berterima kasih pada
pertemuan yang kita lalui
Itu banyak memberiku pelajaran yang
begitu berharga.
Bahkan, betapa berharganya itu
Aku tidak bisa untuk menuliskannya.
Terima kasih, kamu telah berhasil mengisi hatiku.

Kamu berhasil membuatku lupa betapa
payah ku pungut puing-puing hati yang kecewa.

Bahkan ini terlalu spesial, sebab
Kita tetap berdiri pada koridor masing-masing
Sesekali melantunkan salam, berkirim kabar.
Namun belakangan, aku percaya kamu selalu
mengingatku pada tiap-tiap perjumpaanmu pada
Sang Pemilik Hati kita
Kelak akupun begitu.

Bahkan terlalu berharga, sebab itu kamu.

17 April 2018

Perasaan, Oh!

Sahabat, berapa usiamu?
Ah! Ada yang bilang usia tidak menjamin kedewasaan seseorang.
Meski kini engkau masih merasa muda, ketahuilah tidak ada salahnya untuk beranjak dewasa, beranjak dari pikiran-pikiran muda. Perlahan, mari belajar memantapkan diri pada pikiran-pikiran yang logis, sedikit bermain perasaan.

Duh, bicara mengenai perasaan sungguh itu hal yang rumit bukan?
Seseharinya, kita tak bisa enyah sedetikpun memikirkan perasaan diri. Apalagi menyangkut perasaan dua insan.

Sahabat, benarkah engkau jatuh cinta?
Bahkan aku merona saat mendengar kabar itu. Tidak apa, tidak ada salahnya dengan jatuh cinta. Tapi memang, semakin usia bertambah ada segenap norma yang dulu tidak ku tahu dan kini baru kusadari dan sejatinya harus kita terapkan.

Dalam urusan cinta, sungguh ada sebuah cara nan betul pun benar. Tidak sembarang cara, tidak sembarang waktu, yang pasti tidak sembarang orang bisa mengungkapkannya dengan mudah.

Sahabat, bagiku sebuah rasa yang kita sebut cinta adalah sebuah perasaan suci yang mahal. Jika dengan mudahnya seseorang ungkapkan cintanya, seolah dia ingin hidup denganmu, namun sungguh dia tak berdaya mewujudkannya, bukankah benar itu hanya bualan. Segumpal fitrah yang dipenuhi napsu belaka. Bukankah dia hanya mengobral sesuatu yang kita sebut mahal tadi? Duh, bagaimana mungkin suatu benda yang mahal bisa jadi obral? Itu karena nilai benda tersebut turun, atau mungkin sedikit yang berminat padanya, bukan? Bukankah demikian?

Sahabat, sekali lagi aku ingin sampaikan bahwa cinta adalah fitrah manusia yang suci, lagi mahal. Jika ada orang dengan mudahnya mengungkapkan cinta, bukankah engkau tau seberapa nilai dari perasaannya itu? 

16 April 2018

Setitik Rasa

Sudah berapa kali rasa seperti ini mampir pada hati rapuh yang engkau kuat-kuatkan?
Sekali kah? Dua? Tiga?
Ku rasa engkau lebih tau itu.

Pun bagaimana rasanya, bagaimana caranya, bagaimana jalannya.
Bukankah itu berulang, lagi, dan lagi.
Berhentilah mencoba untuk mengiyakan setiap rasa yang sejatinya adalah salah.

Engkau tak pernah belajar, engkau harusnya belajar.
Bukan satu-dua kali saja ini terjadi.
Seharusnya engkau lebih paham bagaimana ini seharusnya terjadi. Tiap-tiap rasa yang menikammu, baik itu yang kau sebut suka, sayang, peduli, khawatir bukankah selalu berakhir pada kecewa?  Ya, selalu seperti itu.

Engkau harusnya belajar, sejatinya yang harus engkau lakukan adalah bukan membesarkan "setitik rasa" yang kau anggap spesial sendiri. Cobalah persiapkan dirimu saja. Persiapkan bagaimana kelak jika ternyata ada yang lebih spesial datang padamu membawa "sejumlah rasa" yang lebih besar dari "setitik rasa" itu, yang kelak akan benar spesial bagi kalian.

Persiapkan dirimu saja. Usah berdrama dengan delusimu sendiri, usah sibuk dengan delusimu sendiri yang semakin membuatmu rapuh.

Usah sekali lagi mencoba pada orang-orang baru jika jalanmu salah. Persiapkan dirimu, perbaiki diri. Kelak Allah dengan segala Maha Penyayangnya menunjukkan tiap-tiap janjinya. Usah risau, percayalah.

4 April 2018

Maka Ada

Maka ada tong kosong nyaring bunyinya,
Maka ada diam adalah emas,
Maka ada malu bertanya sesat di jalan.

Jika memang tidak tau, bertanyalah. Jika tak ingin bertanya, usah berasumsi tambah itu berbau benci.
Usah kotori makna sastra dalam balut suara lembut, berintonasi benci.
Usah bangun gagas SARA dalam larik-larik puisi.
Usah caci agama kami hanya demi menyulut tensi.

Duhai,
Indonesia cukup dipenuhi penduduk berpikir, usah ajari kami, tambah itu berlandasan ketidaktahuanmu.
Sulut benci, caci kami. Tapi jangan tuduh hijab kami. Jangan tuduh adzan kami.

Sulut benci, caci kami
Maka ada, tong kosong nyaring berbunyi.

@drainaaa