Hai…
Ini masih pagi, saat aku menulis
ini waktu di laptopku menunjukkan angka 07.30 WIB. Masih begitu pagi untuk
sadar dan bangun dari tidur. Tapi tidak juga seperti itu sih, sedari subuh aku
dah bangun, mengerjakan hal yang seharusnya dan melanjutkan ‘lemburan’ semalam.
Sejak lulus SMA pekerjaanku tidak jauh dari laptop, selalu berhadapan dengan
laptop dan orang-orang banyak. Mau tau selengkapnya tentang aku? Cek di bio ya,
ato hubungi nomor ini +62 853xxxxxxxx . Hehehe, ga ding. Poinnya bukan itu,
pagi ini aku mau coba menanggapi balasan salah satu follower instagram aku
mengenai pertanyaanku “Kalian ingin aku menulis tentang apa, sih?” yang aku post di snapgram kemarin. Oya, akun ig
aku @drainaaa sama seperti nama blog
ini. Xoxoxo…
Sudah ya, langsung ke intinya saja.
Cekidot!
Anak-Anak, Generasi Penerus
Bangsa
Apa yang pertama muncul di
benakmu ketika mendengar kata ‘anak-anak, generasi penerus bangsa?’ Hal utama
yang muncul di benakku ketika mendengar kata itu adalah sekolah, rumah, dan
jalanan. Dalam coretan kali ini, aku akan coba jabarkan ketiga poin tersebut,
hm semoga tidak mengecewakan.
The first point is sekolah. Mengapa sekolah? Bukan karena basic aku sebagai pendidik ya, sedari
dulu aku begitu punya ketertarikan atas pendidikan, bahkan jika kalian sudah
pernah baca postingan aku ini https://bintangraina10.blogspot.com/2017/12/terima-kasih-diriku-di-bangku-3-sd.html
kalian akan tahu bahwa ketertarikanku terhadap pendidikan bermula sejak aku 3
SD. Aku juga pernah membuat tugas essai tentang pendidikan dan dekadensi moral
ketika SMA- sayangnya aku tidak punya arsip itu, sedih.
Lanjut ya, mengapa sekolah? Sebab
menurutku sekolah merupakan salah satu tempat para generasi penerus bangsa
berada. Sekolah itu tujuan, sekolah itu rumah, sekolah itu tempat pulang. Sekolah
menjadi tempat belajar, bermain, dan bersosial yang paling dekat dengan
masyarakat, baik itu sekolah formal maupun informal. Tapi yang aku maksud kali
ini adalah sekolah formal mulai dari TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi dan pendidikan
yang setara dengan itu semua.
Bicara tentang sekolah, maka kita
akan membayangkan anak-anak, siswa, dan guru. Sekolah merupakan tempat
berlangsungnya pendidikan. Apa itu pendidikan? Dalam UU No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni: Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
bangsa dan negara.
Dari definisi itu kita sadar dan
setuju pada kalimatku di atas bahwa sekolah merupakan salah satu tempat para
generasi penerus bangsa berada. Jadi, generasi penerus bangsa harus belajar, belajar
agama, belajar sopan santun, belajar moral, belajar mengembangkan potensi dan
bakat mereka di sekolah. Masalah proses belajarnya, fasilitas sekolahnya, dan
serba-serbi yang ada di sekolah, itu berkaitan dengan teknis. Kali ini kita
tidak membahas lebih dalam tentang hal tersebut.
The second point is rumah. Mengapa rumah berkaitan dengan generasi
penerus bangsa? Bukankah pada poin pertama sudah di sebutkan bahwa sekolah
adalah rumah? Mengapa di bahas lagi di poin ini? Well, sekolah sebagai rumah maksudnya adalah nilai-nilai
kekeluargaan, persaudaraan, sopan santun, harga-menghargai, bisa kita temukan di
sekolah. Nilai-nilai tersebut di ajarkan dan di terapkan di sekolah. Tapi rumah
adalah tempat yang lebih hangat agar nilai-nilai tersebut muncul ke permukaan,
termasuk nilai-nilai religius. Tidak cukup bagi seorang anak hanya belajar di
sekolah.
Bukankah sering kita mendapati anak-anak
kita dengan Pekerjaan Rumah (PR) dari sekolah? Apakah semua anak esoknya
mengumpulkan PR itu? Bagi orang yang berhadapan langsung dengan anak-anak sepertiku
maka, jawabannya tidak. Tidak semua anak mengerjakan PR mereka- bahkan dahulu
kitapun seperti itu, tidak membuat PR. Baik dulu maupun sekarang, alasan klasik
yang selalu di gunakan adalah lupa, ketinggalan, tidak sempat, bukunya hilang,
atau bahkan membantu ibu di rumah?
Anak dalam masa sekolah tidak
salah menolong ibunya di rumah, membantu mengerjakan tugas harian rumah. Tapi
seharusnya itu adil bagi anak-anak ketika ada orang tua yang tidak mau menolong
anaknya atas tugas sekolah mereka. Apa itu dapat di katakan adil? Maka aku
jawab tidak.
Benar, tidak semua orang tua acuh
terhadap anaknya, tidak semua orang tua merasa anaknya cukup belajar di sekolah
(yang jelas-jelas pikiran seperti itu sangat salah, merasa anaknya cukup
belajar di sekolah). Masih banyak orang tua yang memberi perhatian bagi
anak-anak mereka, bertanya dan berkonsultasi dengan guru, terlebih melakukan
pendekatan pribadi terhadap anak mereka. Orang tua yang selalu punya pertanyaan
“bagaimana anakku tadi di sekolah?” merupakan orang tua yang baik menurutku. Dengan
adanya perhatian dan pertolongan orang tua kepada anaknya di rumah, akan sangat
membantu terwujudnya harapan-harapan yang ada pada poin pertama.
The third point is jalanan. What’s
wrong with jalanan? Hm, jalanan adalah tempat ketika generasi penerus
bangsa tadi tidak berada di sekolah maupun di rumah. Kebanyakan dari anak-anak
berusia sekolah sampai anak-anak berusia produktif kerja yang tidak mengenyam
pendidikan di sekolah dan tidak mendapat perhatian cukup di rumah akan
bersarang di jalanan. Berjualan koran, ngamen,
sampai meminta-minta. Melihat ini, beragam faktor penyebabnya bermunculan. Ku rasa
kalian sudah paham itu, aku tidak membahas detailnya kali ini. Hanya miris
tiap-tiap melihat penampakan tersebut. Bahkan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk
mereka, miris, begitu ironi.
Dari ketiga poin di atas, apakah
ada yang bingung dengan maksudnya? Jika ada, mohon koreksi, hahahah.
Poinnya adalah, hei nak,
anak-anak, anak muda, pemuda, orang tua, dan kita semua, sekolahlah! Sekolahkan
anak kita, sekolahkan diri kita. Belajarlah! tidak ada batasan usia untuk
belajar. Positiflah, sebab apa yang kita pikirkan, itulah yang akan terjadi atas
usaha-usaha positif kita. Jika sudah demikian maka potensi, bakat, kemampuan
kita dan anak-anak kita untuk kemajuan bangsa ini, menjadi generasi penerus bangsa
akan mudah terwujud. Insya Allah.
Ada beberapa usaha yang dapat
kita lakukan sebagai generasi penerus bangsa, kita dedikasikan untuk bangsa ini
setelah hal-hal dasar mengenai belajar tadi kita lakukan yaitu:
1. Awali semua dengan belajar
agama. Nilai-nilai moral generasi bangsa bergantung bagaimana pendidikan
agamanya.
2. Belajar bahasa. Mendalami dan
mencintai bahasa Indonesia itu utama, melestarikan bahasa daerah itu harus, dan
mempelajari bahasa asing itu perlu.
3. Berkaryalah. Hentikan bicaramu
kalau melangkah saja tidak mampu. Intinnya kerja nyata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar