11 November 2017

Kata Siapa Menjadi Pendidik itu Sulit?

          Kata siapa menjadi pendidik itu sulit? Berdiri di depan kelas, memeriksa kehadiran siswa, memberi materi (baca: catatan), memberi tugas (baca: kerjakan LKS), menilai. Itu saja bukan? Melulu itu saja, ya toh?
          Ya, tugas seorang pendidik memang tidak jauh dari hal-hal di atas. Tambah lagi, di lapangan, bahkan saya sendiri pernah mengalaminya. Saya juga pernah duduk di antara barisan peserta didik, menerima materi dan tugas dari mereka yang ada di depan saya. Bukan hal aneh jika hari-hari kita di penuhi dengan catatan (CBSA: Catat Buku Sampai Abis) dan LKS kita penuh dengan coretan. Duh, di sini saya baru menyadari pentingnya metode ceramah (jika tidak monoton ya). Sebab masa menjadi peserta didik, ‘tanpa perhatian’ baru akan di rasakan beberapa tahun kemudian. Nihil pengetahuan, sebab ‘belajar bersama buku’ tidaklah berarti tanpa guru.
          Tentu, tidak semua guru ‘cuek’ terhadap peserta didik. Buktinya saja, dari ragam pendidik yang saya temui, sejak SD, SMP, SMA, bahkan di perguruan tinggi mereka berhasil membuat saya berdiri di depan barisan peserta didik. Terima kasih banyak atas jasa mereka, jasa guru-guru, pun dosen-dosen saya. Termasuk mereka yang sedikit ‘cuek’, terima kasih. Jasa mereka tidaklah terbayarkan, sungguh.
***
          Hm, mari kembali pada pertanyaan pertama pada kalimat awal tulisan ini. Kata siapa menjadi peserta didik itu sulit? Jelas jawaban saya adalah “kata saya”. Sedikit bingung ya? Di awal saya mengatakan bahwa tugas pendidik sekedar memeriksa kehadiran siswa, memberi materi, tugas, dan memberi nilai. Itu-itu saja. Tapi tidak, ternyata tidak sesederhana itu. Untuk lebih jelasnya, mari kita coba mengartikan kata ‘pendidikan’ dulu ya. Pendidikan berasal dari kata didik yang mendapatkan awalan me- lantas menjadi mendidik yang berarti memelihara dan memberi latihan. Dalam melakukan dua kegiatan tersebut (memelihara dan memberi latihan) diperlukan adanya sebuah pengajaran, tuntunan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sehingga didapati pengertian dari kata pendidikan itu. Pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui usaha pengajaran dan pelatihan (Islamuddin, 2010, p.3).
          Mengetahui arti dari pendidikan itu saja membuat tanggung jawab diri ini bertambah, proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui usaha pengajaran dan pelatihan  bukankah itu tidak sesederhana seperti apa yang telah saya jabarkan di muka? Memberikan pengajaran dan pelatihan bagi orang lain, apalagi kepada peserta didik yang jumlahnya lebih dari satu, dengan ragam karakteristik peserta didik, dengan ragam intelegensi peserta didik, dengan ragam latar belakang peserta didik. Tidak sesederhana itu.
          Di sini, mungkin saya membutuhkan beberapa bacaan yang dapat membantu saya menguasai kelas dengan baik. Tapi bukan berkenaan dengan materi pembelajaran, melainkan teori tentang penguasaan peserta didik. Sebab, menguasai peserta didik adalah PR bagi saya, bagi guru pemula. Mengapa menjadi PR? Mungkin selama ini saya terbiasa mengajar di kelas yang memiliki kualitas B hingga A, yang membuat proses pembelajaran saya menjadi mudah. Kemudian, kini saya berdiri di depan kelas yang memiliki kualitas cukup, membuat banyak PR untuk saya sendiri. Saya benar-benar bertanya, usia berapa anak memiliki daya nalar? Sebab saya menemukan banyak di antara mereka yang dengan sulitnya menjawab pertanyaan, meski pertanyaan itu di mulai dengan kata ‘apa’ belum sampai ke ‘bagaimana’. Banyak sekali yang harus saya pelajari di sini. Banyak sekali yang harus saya koreksi pada diri ini.
          Menurut buku yang saya baca, perkembangan anak mempengaruhi kemampuan belajarnya. Ya itu sudah jelas dan pasti. Di sini ada sebuah dilema yang saya rasakan. Dalam proses pembelajaran, sekolah memiliki standar kompetensi yang sudah di atur pemerintah. Untuk memenuhi standar-standar itu, saya berhadapan dengan anak-anak yang terlalu santai dan begitu kurang perhatian. Membiasakan mereka untuk disiplin saja sangat sulit. Membiasakan mereka untuk mau belajar saja sulit. Saya tidak tahu siapa yang harus bertanggung jawab atas itu semua, orang tua, lingkungan, diri mereka sendiri, sekolah, ataupun guru? Yang jelas, saat ini saya memiliki tanggung jawab untuk memberikan kelayakan bagi pendidikan mereka. Meski sulit, namun saya akan terus belajar. Saya berharap diri ini mampu menjalankan kewajiban, sesulit apapun jalan di depannya, saya akan terus berusaha. Semangat!


Referensi: Islamuddin, H. (2012). Psikologi pendidikan. Jember: Pustaka Belajar.

10 November 2017

Perihal yang Pasti dan yang Belum



Sudah berapa kali
hati menangis sebab
cinta pada
yang 
belum pasti?

Tanya yang selalu datang sebab
hati yang lagi
lagi, menangis
sudah
berapa kali?

Kepada siapa hati
bermuara?
tak satupun
tahu

Kepada siapa jiwa 'kan
bermuara?
Rabbmu, Tuhanmu
Allah saja.
sudah pasti

Kepada yang belum pasti
dunia
cinta
rupa
harta
di jual
fana, tiada peduli 
yang kekal
yang pasti

Kepada yang pasti
sebab tangis,
sebab sakit, sebab kecewa
mendekat, meringkuk di kaki bumi
dengan kata-kata
kecewa tersusun
rapih
lupa
untuk
khusyu akan
doa utama
lupa
nikmat 
ibadah
sibuk
dengan berkeluh
akan sakitnya harap pada dunia fana yang
beri kecewa
kecewa saja
hanya mengeluh tentang
sakitnya diri
tanpa ingat ruhiyah
keropos,
rapuh
kayu yang dirayapi
terkikis
keropos, rapuh
kepada yang pasti
kembali,
rapuh
debu, angin
tiada.

4 November 2017

Aku Pernah



Sayang
Ini bukan seutuhnya salahmu
Aku yang mengelakkan sendiri
Ketiadaanku pada matamu waktu itu

Aku pernah menatapmu, sayang
Melihat dengan seluruh hatiku
Menjelajahi matamu yang begitu pasi
Ketiadaanku di matamu masa itu
Adalah jawaban atas
Ketiadaanmu di sini, saat ini

Ini bukan seutuhnya salahmu, sayang
Sebab diri ini terlalu mengelakkan
Kenyataan tentang letak keberadaanku
Pada hatimu waktu itu
Yang ternyata
Tidak di mata juga hatimu

Sayang, ini bukan salahmu
Sebab baru kemarin kau kata takut kehilanganku dalam pandanganmu
Padahal ku tahu, aku telah
hilang lebih dulu
Dari mata dan hatimu

Ini bukan salahmu sayang, aku yang terlalu tertatih mencari tempatku padamu
Yang ternyata benar, aku tidak di mata dan hatimu

Sudahlah sayang
Usah bersandiwara dengan riak di wajahmu
Usah kau permainkan berlalunya waktu
Yang kita habiskan bersama
Sebab ku tahu benar aku tidak di hatimu, lagi

3 November 2017

SASTRA ANAK: DONGENG



Tiga Kawanan
                                                                                         
            Di suatu hutan, hiduplah sekelompok sahabat, yaitu Semut, Gajah, dan Laba-laba. Mereka hidup berdampingan dan saling menolong. Tiga kawanan ini memiliki kemampuan khusus masing-masing. Semut memiliki akal yang cerdik dan memiliki sifat seperti pemimpin. Gajah, selain memiliki badan yang kuat dan besar, ia juga memiliki sifat bijaksana, selalu memberi nasehat dan perlindungan pada teman-temannya jika terjadi suatu konflik. Sedangkan Laba-laba, memiliki kegigihan dan kerja keras, ia hewan yang paling sabar di antara teman- temannya. Meskipun banyak perbedaan, mereka hidup rukun seperti keluarga.
            Musim penghujan berlalu, sebentar lagi kemarau akan datang. Tiga kawanan ini bermaksud untuk mengumpulkan persediaan makanan. Mereka juga mencari tempat perlindungan yang aman untuk tinggal dimusim kemarau.

“Teman-teman, sebentar lagi musim akan berganti, kita harus mencari persediaan makanan dan tempat perlindungan”. Ucap semut.
“Iya, kita harus bergerak cepat sebelum kemarau datang”. Laba-laba menambahkan.
“Kita harus berbagi tugas teman, agar pekerjaan kita cepat selesai”. Gajah memberi saran.

            Akhirnya, mereka sepakat untuk membagi tugas. Semut bertugas untuk mencari buah-buahan kecil dan makanan, Gajah bertugas untuk mengumpulkan ranting pohon, sedangkan Laba-laba bertugas mencari tempat tinggal untuk musim kemarau. “Kita akan berkumpul disini lagi sebelum petang” Gajah menambahkan. Mereka sepakat dan segera mengerjakan tugas masing-masing. Mereka mengerjakan tugas dengan baik. Namun di tengah perjalanan Gajah dikejutkan dengan suara senapan. Setelah dilihat, ternyata ada seorang pemburu sedang mengintai seekor Kijang. Pemburu itu membawa pedang panjang dan senapan. Gajah merasa takut dan hendak melarikan diri. Namun ketika Gajah berlari, kakinya tersandung akar pohon, sehingga keberadaannya dilihat oleh Pemburu. Pemburu itu menoleh ke arah Gajah sambil menodongkan senapannya “Wah… wah… santapan besar, mau kemana kau Gajah cantik. Gadingmu begitu membuatku terpukau” Pemburu itu menatap Gajah dengan sangar. Gajah sangat ketakutan, kemudian ia menarik ranting pohon yang lumayan besar dan melemparkannya pada Pemburu itu hingga Pemburu terjatuh. Pemburu murka “Gajah nakal, jangan coba kau bermain-main denganku”. Gajah berlari. Pemburu tertatih dan menembakkan senapannya, namun meleset. Gajahpun berhasil meloloskan diri. Pemburu mengumpat “Sembunyilah wahai gajah, badanmu yang besar itu akan selalu terlihat di mataku, tunggu saja. Aku akan datang lagi untukmu”.

            Gajah tergopoh dengan kakinya yang terluka, ia berhasil kabur dari Pemburu jahat dan berhasil kembali ke tempat perjanjian mereka. Gajah menunggu kedua sahabatnya. Hingga petang, kedua sahabatnya datang dengan wajah letih namun ceria.

“Hai Gajah, apa yang kau dapat hari ini? aku menemukan tempat persembunyian aman buat kita nanti, di seberang sungai sana”. Laba-laba sumringah.
“Aku menemukan banyak ladang buah di hutan seberang, besok kita akan memanennya”. Tambah semut.

            Gajah hanya murung. Semut melihat kaki Gajah yang terluka. “Wahai sahabatku, ada apa dengan kakimu?”. “Aku tadi bertemu dengan seorang Pemburu”. Kedua sahabatnya terkejut. “Dia akan kembali lagi besok untuk menangkapku kawan, apa yang harus aku lakukan”. Gajah terisak. Kedua sahabatnya saling menatap. “Kita harus melakukan sesuatu pada Pemburu itu”. Ucap Semut. “Kita harus membuat jebakan”. Laba-laba memberi ide. “Tapi pemburu itu membawa pedang panjang dan senapan”. “Jangan khawatir, jangan pernah meragukan kekuatan kita”. Semut memberi semangat. “Tapi, jangan sampai kita bunuh orang itu, di Desa pasti ada keluarga yang menunggunya” Gajah risau. Kemudian semua mengangguk. Kawanan itu merancang suatu rencana, mereka hanya ingin membuat Pemburu itu merasa jera dan tidak berburu di hutan itu lagi.

            Pagi hari, Gajah merasa kakinya membaik, dia dan kedua sahabatnya sudah siap dengan rencana mereka. Sebelum melakukan rencananya mereka mencari buah-buahan untuk mengisi perut mereka sambil bersenda gurau. Di tengah perjalanan, mereka dikejutkan  oleh suara  senapan. Tiga kawanan itupun siap menjalankan rencana mereka.

“Iya, itu pemburu kemarin”. Bisik Gajah. Laba-laba siap untuk membuat jebakan. Ia membuat sebuah jaring yang besar dan tebal. Tidak butuh waktu yang lama bagi Laba-laba membuat jaring itu. Kemudian Gajah memancing Pemburu itu dengan suaranya. Pemburu terpancing dan berjalan kearah Gajah. Ia tidak tahu bahwa di depannya ada sebuah jaring Laba-laba, hingga akhirnya wajahnya terperangkap jaring-jaring itu, Pemburu terjatuh. Semut memberi kode pada Segerombolan Lebah untuk menyerang Pemburu itu.  Pemburu yang terjatuh itu, disengati Lebah. Dia berteriak minta ampun dan beusaha berdiri kemudian melarikan diri dari hutan itu dengan tergopoh. Wajah dan tubuhnya bengkak disengat Lebah, kakinya luka karena terjatuh.

            Tiga kawanan itu berhasil mengusir Pemburu dari hutan itu, mereka berterima kasih pada Lebah yang sudah membantu penyerangan. “Pemburu itu juga sering mencuri madu-madu kami, kami juga sudah geram dengan ulahnya” Lebah menjelaskan. Akhirnya Tiga kawanan itupun melanjutkan rencana awal mereka untuk mencari tempat tinggal yang aman di musim kemarau, sebelumnya mereka mengumpulkan buah-buahan dan makanan dari tempat yang sudah ditunjuk oleh semut. Mereka mengajak Lebah, namun lebah lebih memilih tempatnya sendiri. Mereka berpisah di pinggir sungai. Tiga kawanan itu menyebrangi sungai menuju goa sedangkan Gerombolan Lebah terbang berdampingan.

Bintang


           
 Ini malam yang menangis. Sentuhan angin terasa sangat menusuk bagi seorang bocah-yang tidak biasa untuk menari di kolong langit saat ini. Namun riak wajahnya tidak menunjukkan betapa ia sangat menggigil. Langkahnya seirama dengan tiap tetes air yang turun. Ia tampak begitu hidup.
            Bahkan bintang-bintang di dinding langitpun enggan untuk bermain. Hanya ada satu Bintang yang terlihat begitu menikmati malam ini. Bocah dengan t-shirt hitam bertuliskan I Love Palembang itu bernyanyi di lorong jalan dengan kaki telanjang. Bajunya yang kuyup menunjukkan betapa kurus tubuh putihnya. Wajahnya-yang tidak biasa membuat orang-orang yang berlindung di bawah teras-teras ruko menodongkan wajah heran. Ada mata sipit yang disipit-sipitkan, ada juga mata-mata sipit yang melotot, menggeleng-gelengkan kepala.
            Dari ujung jalan terlihat seorang wanita tua, berteriak, kemudian berlari. Payung yang dibawanya ikut melambai-lambai mengikuti tarian bocah-yang tidak biasa itu.
            Bintang? Kenapa hujan-hujanan?” Seru wanita berdaster itu.
            Anak yang di panggil Bintang menunjukkan wajah tanpa nada. Tangannya menunjuk ke sumber turunnya air. Wanita itu nampak khawatir, wajahnya gelisah. Di tuntunlah bocah itu berjalan, masuk ke dalam sebuah rumah berdinding abu-abu. Di bawalah ia ke dalam kamar mandi. Dilucuti semua pakaian yang dipakainya. Bocah-yang tidak biasa itu berteriak, menyerukan kepada ibunya bahwa ia sedang bermain. Wajah sang ibu tampak mendung, menjadikan malam ini benar-benar menangis.
            Bintang menundukkan kepala, pasrah terhadap setiap sentuhan dari Ibu. Kini bocah itu sudah tampak merah, aroma minyak telon keluar dari tubuhnya yang di balut sweater rajut berwarna putih bertuliskan I Love Mom. Ia berbaring di tempatnya, Ibunya masih sibuk dengan hujannya sambil menarikkan selimut pada tubuh Bintang. Bintang bangun, menyenderkan tubuhnya pada bantal. Di raihnya wajah sang ibu. Bintang tampak berkaca-kaca. Tangannya yang sudah hangat menempel pada sepasang pipi Ibunya. Dikecuplah kening Ibunya, mata dan wajahnya seolah berkata “maaf bu, sudah membuatmu khawatir”. Disekalah air mata ibunya, lalu memeluk tubuh wanita yang tangisnya semakin menjadi. Bintang menyunggingkan senyum di wajah polosnya, berharap ibunya ikut tersenyum. Wanita itu bergumam “maaf nak, ibu tidak bermaksud mengganggumu, ibu hanya takut kehilanganmu”. Bintang menggelengkan kepalanya, lalu berlagak menjewer kedua telinganya sambil tersenyum. “Lain kali, bilang sama ibu kemana kau akan pergi. Ok?”. Bintang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ah, malam ini penuh dengan air. Disela-sela harunya kamar Bintang, terdengar suara perut dari balik sweater rajut berwarna putih. Bintang melotot, ibunya terkekeh- lalu Bintang juga. Tanpa aba-aba lagi ibunya beranjak dari kamar itu.
            Tidak lama kemudian, ia kembali membawa dua mangkuk Indomie Soto dilengkapi dengan telur dan sayur. Ada dua gelas coklat hangat juga di atas nampan itu. Bintang dengan sigap melompat dari atas kasur, merengek pada ibunya untuk berjalan lebih cepat. “Bu, cepatlah aku lapar” wajahnya bertingkah. Merekapun menikmati malam ini dengan sempurna.
            Bintang mengelus-elus perutnya yang sudah mengembung. “Eeeekh”. Bocah itu bersendawa, lalu terkekeh, diusul dengan ibunya. Bocah 10 tahun itu bangkit dari posisinya, mengangkat sisa makan malam mereka dan membawanya ke dapur. Tubuhnya berbicara “Ibu, mari kita ke kamar. Ibu harus istirahat”. Wanita itu menggelengkan kepala. “Ibu tidak boleh membantah” . Bintang meraih tangan ibunya, menuntunnya masuk ke dalam ruang istirahat bercat merah muda. Ada sebuah foto keluarga berdiri di atas meja, Ayah, Ibu dan Bintang di usia 3 bulan. Foto itu dibalut dengan frame hitam dan ukiran mawar di setiap sudut. Bintang meliriknya lalu memalingkan wajahnya dari sana. Ia menatap ibunya, membaringkan tubuh dan menyelimuti tubuh ibunya. “Selamat malam bu, I Love You”. Bintang mengecup kening ibunya. Ibunya tersenyum. Bocah- yang tidak biasa itu berdiri. Sekali lagi ia melihat frame berukir mawar. Sekali lagi ia melihat ibunya yang sudah pura-pura tidur. Lalu keluar menuju kamarnya.
               Di malam yang sama, pada atap yang sama, pada ruangan yang sama yang hanya di pisahkan oleh dinding. Kedua anak beranak itu memikirkan hal yang sama. Pada peristiwa 7 tahun silam, ketika orang tua Bintang menyadari anaknya mulai tumbuh dengan perbedaan. Ayahnya murka, lalu pergi begitu saja meninggalkan kedua beranak itu, menyisahkan luka yang sangat mendalam bagi Ibunya. Bintang yang mulai tumbuh sama halnya dengan anak lainnya, yang memiliki banyak tanya dalam diri. Hingga dia tahu kebenaran itu. Kini keduanya masih sangat mengingat dengan kuat kejadian itu. Di malam yang menangis, mereka menangis bersama di ruang yang di pisah oleh dinding.

Emak



Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan” suara Zainudin MZ dalam tausiyahnya di saluran radio lokal, terdengar sayup-sayup dari kamar Emak. Pada matahari yang terlalu condong ke barat, di gelapnya kamar bercahayakan sebuah lampu minyak, Emak terduduk khidmat mendengarkan cicitan radio yang berusaha bertahan dengan sisa-sisa tenaganya. Sesekali wanita paruh baya itu terlihat menganguk-anggukkan kepala, sesekali ikut terkekeh mendengar lelucon islami yang di sampaikan Ulama kondang itu.

          “Allahu akbar… Allahu akbar…..”

          “Lah, sudah adzan. Alhamdulillah”.

          Emak beranjak dari posisi nyamannya. Terseok dengan langkah kecil menuju kamar mandi berdinding bilik bambu. Di sana ada sebuah ember ukuran 5 liter dengan lubang kecil bersumbat kayu. Emak menarik sumbatan kayu itu. Nampak air segar mengalir dari lubang. Emak berdoa, membasuh wajahnya yang dipenuhi garis-garis usia.

          Tiga rakaat ia tunaikan. Tampak khusyuk dengan balutan mukena yang putihnya dimakan hari. Di akhir salam, Emak tak lupa mengadahkan kedua tangan, memohon doa kepada Sang Pencipta.

          “Tok… tok… tok… Assalamualaikum”

          “Mak, Emak… Assalamualaikum” terdengar suara bocah dari luar rumah.
“Waalaikumussalam, ya. Tunggulah sebentar” Suara serak Emak terdengar bersemangat. Emak berjalan menuju pintu, dan membukanya.
          “Masuklah, masuk” Sambut wanita itu. Emak terlihat celingukan.

          “Mak, Si Duwi ndak bisa datang. Kata ibunya, Duwi lagi sakit” Ucap bocah delapan tahun dengan wajah polosnya.

          “Ooo, yasudah. Kita berdua saja hari ini ya? Kita langsung mulai saja”

          “Iya Mak”


          Si anak mulai membaca Al- Fatihah disusul dengan doa pembuka sebelum mengaji. Emak membuka Iqro, membuka lembaran yang akan di baca oleh Rahman. “Man, kamu lanjutkan bacaan kemarin” Emak menunjukkan lembaran yang di maksud. Bocah itu langsung menuruti perintah Emak. Rahman nampak lancar membaca huruf demi huruf, sesekali ada sedikit huruf yang keliru, Emak menuntunnya dengan cermat.

          “Shodaqollahul adziim” Rahman mengakhiri bacaannya. “Alhamdulillah, besok iqro ini kamu kasihkan sama Si Duwi, kamu tidak usah pakai iqro ini lagi. Karena kamu sudah naik kelas” Emak berdiri dari tempat duduknya, menyalakan sebuah senter yang sedari tadi setia di samping Emak. Mengarahkannya ke gerobok reot di samping jendela rumah. Tangannya meraba ke dalam gerobok, mengambil sebuah kitab yang nampak lusuh.

          “Man, ini hadiah dari Emak karena kamu berhasil tamat duluan dari Si Duwi” Emakmenyerahkan Al-qur’an tua kepada Rahman.

          “Wah, Mak, terimakasih banyak Mak” Rahman nampak girang sambil menciumi telapak tangan Emak. “Tapi Mak, nanti Emak ndak ada bacaan kalo ini buat Rahman”

          “Kamu tenang saja, Emak masih ada satu dikamar. Pokoknya kamu yang rajin belajar, rajin mengaji, itu akan sangat berguna untuk kamu. Kamu juga harus ingat, Al-qur’an ini warisan dari Emak, harus kamu jaga, harus kamu rawat. Meskipun sudah tua, Al-qur’an ini tidak akan pernah berubah kandungannya, sama kayakEmak. Meskipun Emak sudah tua, Emak tidak akan pernah berubah, Emak akan selalu nungguin kamu sama Duwi tiap abis maghrib di gubuk ini” ucap Emak, setengah terkekeh. Rahman menganguk-angguk sambil menggaruk-garuk (bingung).

          “Terimakasih banyak ya mak, besok Rahman ajakin Duwi kalo dia sudah waras”

          “Ya… ya… sekarang kamu pulanglah, sudah malam”

          “Iya mak, assalamualaikum”

          “Waalaikumussalam”

          Emak mengantar Rahman sampai depan pintu. Ia mengawasi punggung rahman. Lalu masuk ke dalam rumah setelah Rahman benar-benar ditelan pintu rumahnya. Sumringah di wajah senja mulai gugur. Kembali ia dengan teman setianya, bersendagurau dengan radio kesayangannya. Kali ini saluran lokal mengudarakan lagu-lagu pujian dan solawat. Khidmat. Wajah lusuh itu berkomat kamit mengikuti nada.

          Besok adalah hari jumat. Wanita separuh abad itu teringat pengajian di musola. Bergegas ia berdiri, tertatih langkahnya, bergetar tangannya membuka gerobok baju. Pintu gerobok berdecit membuat wanita itu bergumam “Wahai gerobok, tubuhmu renta sama halnya denganku. Kita melangkah saja sendi-sendi terasa menjerit” Ia terkekeh. Diambilnya dari dalam perut gerobok sebuah mukena-yang lebih putih dari mukena yang biasa digunakannya dirumah. Mengelus-elusny dan memasukkannya ke dalam tas plastik. Duduklah ia di atas tempat tidurnya, mengangkat bantal dan mengambil sebuah dompet bertuliskan “Emas Asli 24 Karat”. Diambilnya uang pecahan limaribuan dan memasukannya ke dalam tas berisi mukena.

          Empat rakaat dilaksanakannya. Seperti biasa, di akhir salamnya ia selalu menyampaikan solawat dan doa, meminta ketenangan dan ketentraman jiwa. Malam berlanjut, malam ini Emak tidak melepas mukenanya Ia merasa sangat lelah untuk menggantungkan mukenanya. Ia berbaring dengan sunyi. Radio kesayangannya terlebih dulu terlelap dalam nostalgia malam. Hanya nyanyian jangkrik yang meninabobokkan wanita renta itu. Wajahnya yang lusuh berbalut mukena lusuh, pulas dengan tidurnya malam ini. Hingga mentari mulai tinggi, ia tetap tertidur pulas dengan mukena dan wajah yang lusuh- tampak tenang, tanpa beban.



Palembang, 2 Desember 2016

PROLOG




Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh


Hiii, ini adalah postingan pertama saya setelah ribuan hari tidak menyentuh blog ini. Mohon maaf sebelumnya, sebab postingan terdahulu sudah tidak dapat ditemukan lagi di sini. Saya merasa beberapa postingan terdahulu cukup alay untuk tetap menetap. Ya, kita semua tahu jika ingin bergerak maju alangkah baik jika kenangan masa lalu tidak banyak ikut campur dalam sejarah baru kehidupan kita. Kita juga tahu bahwa tidak ada salahnya jika tetap menjadikan kenangan masa lalu sebagai sejarah, toh itulah diri kita yang sebenarnya. Hal baik, hal buruk, hal setengah baik, maupun setengah buruk yang pernah kita lewati adalah masa transisi kita. Tapi setelah menimbang, saya memutuskan untuk menghapusnya dan akan menggantinya dengan postingan-postingan baru yang saya harap dapat bermanfaat bagi saya maupun pembaca. Cekidot!


Duh, tapi saya bingung nih mau memulai dengan postingan apa saat ini. Ada ide? Atau saya mulai dengan sedikit berpuisi ria saja ya? Yuk ah...


Pada Kelabu di Tengah Jinggaku

Hai, ini kesekian kalinya kulihat dirimu
Berdiri di tengah jinggaku
Kau tahu betapa aku menyukai jinggaku tapi
Kau seenaknya saja berdiri di sana
Bagaimana mungkin aku kan menyukaimu
Jika kau hanya membuat pipiku basah

Aku tidak pernah mengharapkan aku
Membencimu
Atau
Sekedar mengalihkan pandanganku
Dari dirimu
Tapi
Kau yang
Memaksaku
Mejauhimu sebab kau hanya membuat pipiku basah
Sesak dadaku menatapmu, kelabu
Begitu sulit aku mengertimu

Jangan buat aku menerka arti dari setiap senyummu,
Meski kau tahu aku pernah sungguh tersenyum untuk
Dan karenamu
Jangan buat aku menerka arti dari tatapan kosongmu
Meski kau tahu aku sungguh hanya melihatmu,
Lebih dari jinggaku
Jangan paksa aku untuk menyukaimu, lagi
Sebab sendiri di sini tidak senikmat
Aku menatap jinggaku kini.

Kau begitu kelabu hingga aku
Tak tahu apapun
Tentangmu.