Aku tidak tahu mengapa diri
mudah larut dalam haru
Ini tentang kegemaranku
Ya, aku gemar sekali
Mengungkapkan perasaan
Lewat sebuah coretan
Aku pernah bertemu dengan beberapa orang
Memiliki rasa yang spesial pada mereka
Pernah menangis sekaligus tertawa
Bersama mereka.
Aku pernah.
Banyak yang sudah aku temui
Banyak yang aku pelajari
Tidak mengapa jika kamu berpikir
Aku bukan orang yang baik,
Karena memang begitulah adanya.
Kini, aku bertemu denganmu
dalam keadaan terburukku
Sungguh, apa yang kamu pikir tentangku saat ini
Aku terima,
Sebab sadar diri bukan makhluk
yang sempurna.
Ah, aku terlalu banyak bicara.
Sebenarnya aku hanya ingin menyampaikan
Betapa diri berterima kasih pada
pertemuan yang kita lalui
Itu banyak memberiku pelajaran yang
begitu berharga.
Bahkan, betapa berharganya itu
Aku tidak bisa untuk menuliskannya.
Terima kasih, kamu telah berhasil mengisi hatiku.
Kamu berhasil membuatku lupa betapa
payah ku pungut puing-puing hati yang kecewa.
Bahkan ini terlalu spesial, sebab
Kita tetap berdiri pada koridor masing-masing
Sesekali melantunkan salam, berkirim kabar.
Namun belakangan, aku percaya kamu selalu
mengingatku pada tiap-tiap perjumpaanmu pada
Sang Pemilik Hati kita
Kelak akupun begitu.
Bahkan terlalu berharga, sebab itu kamu.
28 April 2018
17 April 2018
Perasaan, Oh!
Sahabat, berapa usiamu?
Ah! Ada yang bilang usia tidak menjamin kedewasaan seseorang.
Meski kini engkau masih merasa muda, ketahuilah tidak ada salahnya untuk beranjak dewasa, beranjak dari pikiran-pikiran muda. Perlahan, mari belajar memantapkan diri pada pikiran-pikiran yang logis, sedikit bermain perasaan.
Duh, bicara mengenai perasaan sungguh itu hal yang rumit bukan?
Seseharinya, kita tak bisa enyah sedetikpun memikirkan perasaan diri. Apalagi menyangkut perasaan dua insan.
Sahabat, benarkah engkau jatuh cinta?
Bahkan aku merona saat mendengar kabar itu. Tidak apa, tidak ada salahnya dengan jatuh cinta. Tapi memang, semakin usia bertambah ada segenap norma yang dulu tidak ku tahu dan kini baru kusadari dan sejatinya harus kita terapkan.
Dalam urusan cinta, sungguh ada sebuah cara nan betul pun benar. Tidak sembarang cara, tidak sembarang waktu, yang pasti tidak sembarang orang bisa mengungkapkannya dengan mudah.
Sahabat, bagiku sebuah rasa yang kita sebut cinta adalah sebuah perasaan suci yang mahal. Jika dengan mudahnya seseorang ungkapkan cintanya, seolah dia ingin hidup denganmu, namun sungguh dia tak berdaya mewujudkannya, bukankah benar itu hanya bualan. Segumpal fitrah yang dipenuhi napsu belaka. Bukankah dia hanya mengobral sesuatu yang kita sebut mahal tadi? Duh, bagaimana mungkin suatu benda yang mahal bisa jadi obral? Itu karena nilai benda tersebut turun, atau mungkin sedikit yang berminat padanya, bukan? Bukankah demikian?
Sahabat, sekali lagi aku ingin sampaikan bahwa cinta adalah fitrah manusia yang suci, lagi mahal. Jika ada orang dengan mudahnya mengungkapkan cinta, bukankah engkau tau seberapa nilai dari perasaannya itu?
Ah! Ada yang bilang usia tidak menjamin kedewasaan seseorang.
Meski kini engkau masih merasa muda, ketahuilah tidak ada salahnya untuk beranjak dewasa, beranjak dari pikiran-pikiran muda. Perlahan, mari belajar memantapkan diri pada pikiran-pikiran yang logis, sedikit bermain perasaan.
Duh, bicara mengenai perasaan sungguh itu hal yang rumit bukan?
Seseharinya, kita tak bisa enyah sedetikpun memikirkan perasaan diri. Apalagi menyangkut perasaan dua insan.
Sahabat, benarkah engkau jatuh cinta?
Bahkan aku merona saat mendengar kabar itu. Tidak apa, tidak ada salahnya dengan jatuh cinta. Tapi memang, semakin usia bertambah ada segenap norma yang dulu tidak ku tahu dan kini baru kusadari dan sejatinya harus kita terapkan.
Dalam urusan cinta, sungguh ada sebuah cara nan betul pun benar. Tidak sembarang cara, tidak sembarang waktu, yang pasti tidak sembarang orang bisa mengungkapkannya dengan mudah.
Sahabat, bagiku sebuah rasa yang kita sebut cinta adalah sebuah perasaan suci yang mahal. Jika dengan mudahnya seseorang ungkapkan cintanya, seolah dia ingin hidup denganmu, namun sungguh dia tak berdaya mewujudkannya, bukankah benar itu hanya bualan. Segumpal fitrah yang dipenuhi napsu belaka. Bukankah dia hanya mengobral sesuatu yang kita sebut mahal tadi? Duh, bagaimana mungkin suatu benda yang mahal bisa jadi obral? Itu karena nilai benda tersebut turun, atau mungkin sedikit yang berminat padanya, bukan? Bukankah demikian?
Sahabat, sekali lagi aku ingin sampaikan bahwa cinta adalah fitrah manusia yang suci, lagi mahal. Jika ada orang dengan mudahnya mengungkapkan cinta, bukankah engkau tau seberapa nilai dari perasaannya itu?
16 April 2018
Setitik Rasa
Sudah berapa kali rasa seperti ini mampir pada hati rapuh yang engkau kuat-kuatkan?
Sekali kah? Dua? Tiga?
Ku rasa engkau lebih tau itu.
Pun bagaimana rasanya, bagaimana caranya, bagaimana jalannya.
Bukankah itu berulang, lagi, dan lagi.
Berhentilah mencoba untuk mengiyakan setiap rasa yang sejatinya adalah salah.
Engkau tak pernah belajar, engkau harusnya belajar.
Bukan satu-dua kali saja ini terjadi.
Seharusnya engkau lebih paham bagaimana ini seharusnya terjadi. Tiap-tiap rasa yang menikammu, baik itu yang kau sebut suka, sayang, peduli, khawatir bukankah selalu berakhir pada kecewa? Ya, selalu seperti itu.
Engkau harusnya belajar, sejatinya yang harus engkau lakukan adalah bukan membesarkan "setitik rasa" yang kau anggap spesial sendiri. Cobalah persiapkan dirimu saja. Persiapkan bagaimana kelak jika ternyata ada yang lebih spesial datang padamu membawa "sejumlah rasa" yang lebih besar dari "setitik rasa" itu, yang kelak akan benar spesial bagi kalian.
Persiapkan dirimu saja. Usah berdrama dengan delusimu sendiri, usah sibuk dengan delusimu sendiri yang semakin membuatmu rapuh.
Usah sekali lagi mencoba pada orang-orang baru jika jalanmu salah. Persiapkan dirimu, perbaiki diri. Kelak Allah dengan segala Maha Penyayangnya menunjukkan tiap-tiap janjinya. Usah risau, percayalah.
Sekali kah? Dua? Tiga?
Ku rasa engkau lebih tau itu.
![]() |
Pun bagaimana rasanya, bagaimana caranya, bagaimana jalannya.
Bukankah itu berulang, lagi, dan lagi.
Berhentilah mencoba untuk mengiyakan setiap rasa yang sejatinya adalah salah.
Engkau tak pernah belajar, engkau harusnya belajar.
Bukan satu-dua kali saja ini terjadi.
Seharusnya engkau lebih paham bagaimana ini seharusnya terjadi. Tiap-tiap rasa yang menikammu, baik itu yang kau sebut suka, sayang, peduli, khawatir bukankah selalu berakhir pada kecewa? Ya, selalu seperti itu.
Engkau harusnya belajar, sejatinya yang harus engkau lakukan adalah bukan membesarkan "setitik rasa" yang kau anggap spesial sendiri. Cobalah persiapkan dirimu saja. Persiapkan bagaimana kelak jika ternyata ada yang lebih spesial datang padamu membawa "sejumlah rasa" yang lebih besar dari "setitik rasa" itu, yang kelak akan benar spesial bagi kalian.
Persiapkan dirimu saja. Usah berdrama dengan delusimu sendiri, usah sibuk dengan delusimu sendiri yang semakin membuatmu rapuh.
Usah sekali lagi mencoba pada orang-orang baru jika jalanmu salah. Persiapkan dirimu, perbaiki diri. Kelak Allah dengan segala Maha Penyayangnya menunjukkan tiap-tiap janjinya. Usah risau, percayalah.
4 April 2018
Maka Ada
Maka ada tong kosong nyaring bunyinya,
Maka ada diam adalah emas,
Maka ada malu bertanya sesat di jalan.
Jika memang tidak tau, bertanyalah. Jika tak ingin bertanya, usah berasumsi tambah itu berbau benci.
Usah kotori makna sastra dalam balut suara lembut, berintonasi benci.
Usah bangun gagas SARA dalam larik-larik puisi.
Usah caci agama kami hanya demi menyulut tensi.
Duhai,
Indonesia cukup dipenuhi penduduk berpikir, usah ajari kami, tambah itu berlandasan ketidaktahuanmu.
Sulut benci, caci kami. Tapi jangan tuduh hijab kami. Jangan tuduh adzan kami.
Sulut benci, caci kami
Maka ada, tong kosong nyaring berbunyi.
@drainaaa
Maka ada diam adalah emas,
Maka ada malu bertanya sesat di jalan.
Jika memang tidak tau, bertanyalah. Jika tak ingin bertanya, usah berasumsi tambah itu berbau benci.
Usah kotori makna sastra dalam balut suara lembut, berintonasi benci.
Usah bangun gagas SARA dalam larik-larik puisi.
Usah caci agama kami hanya demi menyulut tensi.
Duhai,
Indonesia cukup dipenuhi penduduk berpikir, usah ajari kami, tambah itu berlandasan ketidaktahuanmu.
Sulut benci, caci kami. Tapi jangan tuduh hijab kami. Jangan tuduh adzan kami.
Sulut benci, caci kami
Maka ada, tong kosong nyaring berbunyi.
@drainaaa
Langganan:
Komentar (Atom)


