6 Desember 2017

Pada Suatu Hari Nanti


Pada Suatu Hari Nanti
Sapardi Djoko Damono

Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan ku relakan sendiri

Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap ku siasati

Pada suatu hari nanti
Impianku tak di kenal lagi
Namun disela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya ku cari. 

Hanya Manusia



Terima kasih, mungkin aku yang terlalu mudah untuk berharap. Kita masih belum tau akan di bawa ke mana langkah ini. Namun, ternyata hatiku memang terlalu mudah untuk berharap. Satu-satunya yang aku harapkan adalah keluar dari setiap bayangan masa lalu, keluar dari setiap rasa sakit karenanya. Tapi hati tiada yang tau, meski sulit sekali untuk memulai itu, perlahan ada setitik harapan dalam diri, pada langkah yang belum pasti tujuannya. 
Ini sebab hadirnya dirimu, yang perlahan mampu membuatku untuk tidak mengingat masa lalu, tidak memikirkan setiap rasa sakit itu, hingga aku benar-benar lupa. Kamu telah berhasil, sebenarnya. Namun, terlalu banyak takut dalam diri yang mudah berharap ini. Jika itu terjadi, aku tidak akan membiarkan diriku terjerembab pada kesalahan yang sama, lagi dan lagi. Tak ingin memulai untuk kecewa lagi, pada orang yang berbeda. Aku tidak pernah mengharapkan adanya kekecewaan lagi. Mungkin benar, jarak adalah sebaik-baik hal yang harus ada di antara kita. Sebab kita masih belum tau mau di bawa ke mana langkah ini. Aku pun belum memutuskan untuk berjalan bersamamu. Aku hanya takut pada hati yang mudah berharap, takut pada kekecewaan.
Aku tidak pernah lupa, diri ini hanya manusia biasa. Bukan jaringan komputer, yang dapat bekerja secara on-off setiap kali ingin. Aku tidak bisa mengendalikan hati untuk berharap, aku tidak bisa mengendalikan setiap rasa kecewa yang akan datang.
Sedikit 'pencegahan' adalah hal yang harus selalu ada pada diri. Aku percaya bahwa Allah Maha Membolak-balikan hati. Aku percaya, tiada yang patut menjadi tempat berharap selain Allah. Namun, aku tidak pernah lupa, bahwa diri ini hanya manusia biasa.


Palembang pagi yang basah, 6 Desember 2017.

4 Desember 2017

Suara Guru

Ini foto saat beliau membacakan Suara Guru pada acara pelepasan siswa SMAN 21 Palembang, pada tahun 2016.

Ini foto beliau bersama istri, romantis yaaa?


Mendengarkan pertama kali puisi ini di bacakan oleh Ayahanda kami, oleh guru kami pada acara pelepasan siswa SMA N 21 Palembang pada tahun 2016 sungguh menggugah hati saya. Bagaimana tidak, beliau adalah benar-benar figur yang menjadi panutan kami, bagaimana menjadi seorang guru yang seharusnya. Mengenal beliau pada tahun 2009, bangga pernah di didik beliau, bangga menjadi murid beliau. Meski pertemuan itu hanya tiga tahun saja, namun apa yang beliau ajarkan tertanam dan teringat dalam hati, membumbung tinggi hingga sanubari. Beliau, meski pada masa pensiunnya tetap menjadi seseorang yang menginspirasi saya, menginspirasi setiap anak didiknya, menginspirasi kami. Beliau mengajarkan kami ilmu dunia, mengingatkan kami tentang akhirat, yang pasti menjadi tauladan bagi anak didiknya, bagi guru-guru lain dan calon-calon guru tentang bagaimana berlaku dengan hati, ikhlas tanpa pamrih tanpa mengurangi profesionalitas diri. Semoga apa yang Bapak ajarkan menjadi amal jariyah bagi Bapak. Aamiin, Allahuma aamiin. Terima kasih, atas semua jasamu, Ayahanda kami, Hermanto, S.Pd.

Penasaran sama puisi beliau? Ini nih sudah saya pinta dari beliau langsung melalui aplikasi Facebook, cekidot...

SUARA GURU
Karya:
Hermanto, S.Pd

Kepada pengabdi negeri
Mataram, 10111986

Suara guru adalah benih yang ditabur
kemudian menghambur
menghablur padat abstraksi amanat
mengkristal pecah serpih-serpih upaya:
Menganakkan bayi, bukan membayikan anak
Mendewasakan anak, bukan menganakkan dewasa
Mengembangkan undur, bukan mengundurkan kembang
Mematangkan mentah, bukan mementahkan matang
Menjernihkan keruh, bukan mengeruhkan jernih
Suara guru jangan menggema
membalik arah menikam jiwa yang menjala
Suara guru hendaknya kedap
mengendap dalam menyubur jiwa yang menjala
menumbuh kembang ujud upaya
cipta
rasa
karsa
terpadu dalam trimatra kehidupan.

Beliau juga berpesan dalam postingannya itu:
Semoga suara guru ini tertangkap oleh anak-anak didik bapak yang hendak meniti titian serupa sebagai generasi pelanjut yang amanah.

2 Desember 2017

Terima Kasih, Diriku di Bangku 3 SD


Terima Kasih, Diriku di Bangku 3 SD

                Tidak peduli apa dan bagaimana. Jika aku telah berniat memutuskan suatu hal, mau tidak mau, sulit tidak sulit, suka tidak suka maka itu harus terjadi. Tidak peduli apapun, jika restu kedua orang tua sudah di tangan, maka Allah akan meridhoi setiap langkahku, memudahkan jalanku. Itu yang aku percaya dan selalu aku pegang teguh dalam diri. Ini adalah salah satu ambisi dalam hidupku. Tidak seperti orang kebanyakan yang dengan mudah dapat melanjutkan pendidikan dari satu jenjang ke jenjang berikutnya. Tidak bagiku.
                Di awali dari sebuah pertanyaan seorang guru di masa sekolah dasar, pada bangku 3. Beliau bertanya tentang cita-cita. Hei, anak kelas 3 SD saat itu pun saat ini aku rasa sama, menganggap cita-cita masih hanya sebagai sebuah kata. Tapi tetap saja kita harus mengisi pertanyaan itu dengan kata yang menjadi cita-cita kita, jika tidak kita akan mendengar banyak motivasi dari guru kita, ya kan? Hehehe. Pada akhirnya kata yang terucap saat menjawab pertanyaan itu, tidak tahu bagaimana aku hanya menjawab guru, ya cita-citaku saat itu menjadi seorang guru. Tidak sampai di situ saja, beliau meminta sebuah alasan dari apa yang aku cita-citakan. Di dalam ruang kelas itu, pada bangku 3, aku berpikir “Mengapa aku ingin menjadi seorang guru?” Kemudian aku perhatikan beliau (guru) yang ada di depan kelas sampai akhirnya aku menemukan alasannya.

Nama                    : Ina Maria
Kelas                     : 3
Cita-cita           : Guru (Menjadi seorang guru)
Alasan                   : Supaya dapat membuat orang lain (baca: murid) pintar.

                Itulah alasan yang selalu aku ingat sepanjang hidupku. Dari situlah aku tahu mengapa aku memilih untuk kuliah pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Dari situlah, kini aku benar menjadi seorang sarjana pendidikan, benar aku seorang guru, dan in shaa Allah apa yang menjadi alasanku pada bangku 3 itu akan terwujud.
                Namun tidak sesingkat itu perjalanan seorang guru ini. Itu terdengar begitu ringan dan mudah. Apa ada yang tahu, kedua orang tuaku bahkan pernah takut, takut mendengar cita-cita anaknya itu. Mereka tidak pernah berani untuk membayangkannya. Hingga akhirnya aku berjuang sendiri, meyakini dan mengingatkan keduanya tentang adanya kemudahan setelah kesulitan. Hingga akhirnya mereka merestui tekadku yang begitu bulat. Masalah yang di temui dalam perkuliahan, adalaha masalah mahasiswa kebanyakan. Kita pernah mengalami itu semua dan tidak perlu kita ceritakan bukan? Sebab itulah yang di sebut proses.
                Hal yang begitu aku idamkan adalah, melihat kedua orang tuaku melihatku  memakai pakaian kebesaran sarjanawan, memakai toga di hadapan mereka. Kalian tahu, betapa bahagia melihat sumringah mereka saat anak gadisnya memakai itu. Tentu saja tidak berhenti di sana, alhamdulillah, berkat proses yang sungguh-sungguh dalam meraih cita-cita itu, aku berhasil memberikan predikat lulusan terbaik bagi kedua orang tuaku. Dari lebih dari 500 sarjanawan, aku bersama 15 sarjanawan lainnya mendapat predikat lulusan terbaik yang akan kami persembahkan pada orang-orang kesayangan kami, pada kedua orang tua kami.

                Untuk itu, selama hidupku, benar bahwa hanya itu yang baru bisa aku persembahkan kepada mereka. Hanya itu dan baru itu. Kelak, mimpi dan ambisiku yang lain yang sedang dalam proses akan kuulangi membuat sumringah di wajah mereka. Akan kuulangi kebahagiaan itu, lagi dan lagi. Bismillahirohmaanirrohim.