السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Apa kabar teman-temanku? Semoga baik-baik saja ya? Akupun baik-baik saja, sungguh. Hanya sedikit dipenuhi rasa malas seperti biasa. Hahahaha
Tidak ingat kapan terakhir aku buka blogku ini, sampai-sampai waktu aku membukanya tadi aku menemukan banyak hewan-hewan berterbangan, merayap, dan mencicit. Seperti pertama kali membuka rumah tua yang ditinggalkan tuannya puluhan tahun lamanya. Dari beberapa minggu lalu niat untuk mencoba membuat coretan-coretan lagi terus mendorong pergi rasa malasku. Namun, rasa malas yang terus aku beri makan semakin kuat, sehingga niat itu harus aku bulatkan sebulat-bulatnya.
Aku tidak tahu apa yang ingin aku tulis dan bagaimana memulainya. Tapi dari awal aku sudah memutuskan judulnya "Menjadi Guru Sekolah Dasar Menyenangkan?" Bagaimana isinya, kita lihat sejauh mana otak ini memerintahkan tanganku memencet keyboard. Cekidot!
Ini baru tahun keduaku menjadi seorang guru sekolah dasar. Awalnya aku merasa begitu berat memikirkannya. Aku suka anak kecil, sangat suka. Namun, mendidik dan bermain dengan anak kecil merupakan dua hal yang berbeda.
Sebelum studiku selesai, sekitar November atau Oktober 2017 aku mendapatkan tawaran untuk mengajar di salah satu SMP Swasta di Palembang. Mengajar sesuai dengan bidangku. Itu adalah pertama kali aku terjun sebagai seorang guru (Bukan sebagai mahasiswa PPL). Jelas berbeda.
Bagi teman-teman yang mengenalku pasti tau bagaimana aku yang mungil ini dihadapkan dengan anak SMP yang secara fisik tidak banyak berbeda denganku. Bagi guru muda sepertiku pasti pernah merasakan bagaimana digoda dan dirayu anak muridnya (mengingatnya membuatku geleng-geleng kepala). Tapi, aku mempunyai kebiasaan (aku baru sadar belakangan ternyata ini menjadi kebiasaanku), adalah membuat kesan pertama mereka padaku seperti "Ibu itu galak". Ya, untuk beberapa hal itu berhasil. Aku mempunyai rules dikelasku. Mau bagaimanapun prosesnya asal aturan itu diterapkan "galak" itu bisa berubah menjadi "menyenangkan" (Semoga, hahahah). Itu hanya bertahan hingga akhir tahun. Pada Januari 2018 aku mendapat tawaran lain, mengajar di sekolahku dulu, tempat dimana aku dibesarkan selama 6 tahun sekolahku yang bahkan hanya 5 langkah jaraknya dari rumahku.
Ya, disinilah aku sekarang. Menjadi guru Sekolah Dasar. Jika ditanya seberapa nyaman, aku sangat nyaman disini sebab mayoritas guru-gurunya adalah guruku dulu sewaktu sekolah. Aku seperti seorang anak yang disambut pulang ke rumah. Hanya beberapa hal menjadi sangat berbeda. Jika sewaktu mengajar SMP, aku hanya mengisi 1 mata pelajaran sesuai bidangku, namun di sini, aku harus menjadi wali kelas, memberi materi semua pelajaran kecuali PAI dan PJOK (PR pertama). Untungnya, sungguh alhamdulillah aku tipe orang yang mau dan suka belajar apapun. Aku lalui itu dengan aman, dengan harapan semoga ilmu dariku tidak menyesatkan mereka (aku juga masih dan terus belajar).
Terlepas dari pelajaran, aku dihadapkan dengan kelas lebih dari 30 anak dengan sifat, latar belakang, kemampuan yang berbeda-beda (PR kedua). Ini lebih sulit dari sekedar memberi materi. Untuk masalah kelas, aku sudah cerita bahwa aku punya aturan kelasku sendiri jadi itu tidak menjadi masalah sebab alhamdulillah mereka mendengarkanku, mengikuti aturanku. Justru yang menjadi masalah adalah ketika aku dihadapkan dengan beberapa siswa yang "sedikit bermasalah", berusaha mencari jalan keluar dengan mencoba berkonsultasi dengan orang tua mereka, aku masih menemukan orang tua yang tidak peduli dengan anak mereka sendiri. Tidak semua orang tua seperti itu, namun ada beberapa orang tua yang seakan "Ya, anak saya memang nakal. Biarkan saja", atau "Ya, dia memang seperti itu, mau bagaimana lagi". Disitu Mamak bingung, sungguh. Jadi buat para orang tua harus sadar bahwa anak tidak cukup hanya dengan sekolah. Orang tua punya 5,6,7 anak di rumah? Sedangkan kami 30 lebih untuk satu kelasnya. Mohon kerja samanya demi kebaikan anak-anak kita.
Kemudian, aku masih harus belajar bagaimana siswa di kelas belajar dengan menyenangkan (PR ketiga). Kadang aku merasa begitu monoton dikelas. Belum mampu memahami kebutuhan anak-anak seusia mereka. Apa dan bagaimana kebutuhan mereka aku masih belum mampu memberi yang terbaik. Ketika melakukan games di kelas, beberapa belum nalar. Mereka belum sampai untuk permainan itu sehingga aku memikirkan ice breaking yang seperti apa yang tepat untuk mereka (Anak usia 3 SD). Ah, Mamak sedih di sini.
***
Terlepas dari itu semua, menjadi guru Sekolah Dasar begitu menyenangkan. Bertemu dengan anak-anak setiap hari, mendengar mereka memanggilku "Ibu", saat turun dari motor anak-anak menyerbu, berebut untuk bersalaman, melihat tumbuh kembang mereka, melihat progres kemampuan mereka, mendengar meraka mengadu "Ibu... hari ini saya seperti ini, Ibu... hari ini dia nakal" dan lain-lain. Dan hal paling menyenangkan adalah ketika aku melihat langsung perubahan positif yang dialami mereka, mereka yang mulai berani untuk tampil, berani untuk bertanya, berani untuk menyingkirkan rasa nakal mereka untuk memperhatikan gurunya.
